Hubungan NAFLD dan Hepatitis Virus3 | ethicaldigest

Hubungan NAFLD dan Hepatitis Virus3

NAFLD dan hepatitis B

Masih sedikit laporan interaksi HBV dan steatosis hepatika dan sindroma metabolik. Beberapa penelitian memperlihatkan, steatosis hepatika terjadi pada 27-51% pasien dengan HBV, dibandingkan dengan 31-72% pasien dengan HCV. Meski sumber steatosis pada pasien HBV tetap ambigu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa steatosis lebih berhubungan dengan faktor metabolik terkait penjamu, dibanding virus.

Suatu penelitian terkini menyelidiki 153 pasien dengan HBV. Ditemukan,  19% menderita NAFLD dan 13% menderita NASH. Orang dengan NASH dan HBV secara signifikan berusia lebih tua. Dan, mereka lebih besar kemungkinannya mengalami hipertensi, dislipidemia dan memiliki lingkar perut lebih besar. Lebih lanjut, DNA HBV dan enzim liver tidak berhubungan denga steatosis atau NASH. Bukti-bukti ini memperlihatkan bahwa steatosis pada pasien HBV, berhubugan dengan faktor penjamu dan non virus.

Tsochatzis dan rekan memperlihatkan dalam suatu penelitian bahwa steatosis lebih sedikit terjadi pada pasien HBV dibanding paisen HCV. Selain itu, mereka menunjukkan bahwa steatosis dalam derajat yang lebih tinggi, dihubungkan dengan IMT yang lebih tinggi dan diabetes tipe 2.

Sementara Thomopoulos dan kawan-kawan menilai faktor risiko untuk steatosis, pada suatu penelitian melibatkan 233 pasien HBV. Peneliti mengonfirmasikan bahwa steatosis secara independen berhubungan dengan IMT. Selain itu, mereka menunjukkan tidak adanya hubungan antara steatosis dan fibrosis.

Sebagai kesimpulan, sebagian besar penelitian memperlihatkan hubungan potensial antara fibrosis hepatika pada pasien terinfeksi HBV dengan steatosis hepatika atau tanda-tanda sindroma metabolik. Namun, saat itu hanya sedikit bukti yang mendukung dampak negative factor-faktor ini pada pengobatan HBV.

Dampak mengobati komponen sindrom metabolik pada outcome hepatitis B dan C.

Hingga saat ini, hanya sedikit penelitian menyelidiki pendekatan terapeutik terhadap komponen sindroma metabolik pada pasien terinfeksi HBV atau HCV. Penurunan berat badan melalui modifikasi gaya hidup dengan diet dan olah raga, bisa memberikan manfaat pada pasien dengan NAFLD. Tapi, untuk sebagian besar orang, penurunan berat badan sulit dicapai dan dipertahankan.

Hickman dan rekan mempelajari dampak penurunan berat badan, pada pasien HVC yang mengalami obesitas. Penelitian mereka menunjukkan manfaat penurunan berat badan, pada pasien dengan steatosis hepatika dan HCV. Pasien-pasien mereka mengalami penurunan berat badan ± 3,2 kg setelah 3 bulan.

Selain itu, ada penurunan lingkar perut, perbaikan ALT serum puasa, dan penurunan steatosis dan fibrosis. Suatu penelitian berbeda memberikan pasien dengan perlemakan hati dan HCV diet 15 bulan dan program olah raga. Diperkirakan, 68% pasien ini mengalami penurunan berat badan setelah 15 bulan dan penurunannya menetap. Kadar insulin dan ALT serum juga menurun. Selain itu, pasien-pasien ini melaporkan perbaikan kualitas hidup. Kedua penelitian menunjukkan bahwa penurunan berat badan bisa memberi manfaat untuk pasien obesitas dengan HCV.

BACA HUBUNGAN NAFLD DAN HEPATITIS VIRUS2

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.