Hubungan NAFLD dan Hepatitis Virus2 | ethicaldigest
Hubungan_NAFLD_dan_Hepatitis2

Hubungan NAFLD dan Hepatitis Virus2

Dampak steatosis hepatika terhadap progresi fibrosis.

Beberapa penelitian menunjukkan, steatosis hepatika dan sindroma metabolik mempengaruhi progresi penyakit liver pada pasien hepatitis C. Leandro dan kawan-kawan menyelidiki 3.068 pasien dalam suatu meta analisa, dari 10 pusat kesehatan di dunia. Analisa multivariate yang mereka lakukan menunjukkan bahwa steatosis hepatika terkait dengan HCV genotipe 3, diabetes, IMT, inflamasi, fibrosis, penggunaan alkohol dan usia.

Hui dan rekan melaporkan dalam suatu penelitian melibatkan 260 pasien dengan HCV, prediktor independen fibrosis meliputi resistensi insulin (HOMA-IR), inflamasi portal dan periportal, mengonsumsi alkohol sebelumnya dan usia. Meski demikian, analisa multivariate tidak menunjukkan hubungan antara steatosis dan fibrosis.

Penelitian lain memprediksi fibrosis tingkat lanjut pada pasien dengan indeks masa tubuh yang besar dan NASH. Penelitian yang dilakukan Younossi Z, berdasarkan data histologis dari 96 pasien dengan HCV, yang menjalani biopsi selama 48 bulan. Analisa multivariat menunjukkan bahwa steatosis hati, secara independen terkait dengan pengembangan fibrosis dan lebih banyak pada HCV genotipe 3.

Dampak NAFLD pada Pengobatan HCV

Saat ini, kombinasi pegylated interferon-α dan ribavirin adalah pengobatan standar untuk hepatitis C kronis dengan respon sustained virologic (SVR) secara keseluruhan sebesar 50-60%. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi respon terhadap terapi antiviral, pada pasien terinfeksi HCV. Faktor-faktor yang mempengaruhi respon pengobatan terkait dengan virus (HCV genotipe dan viral load RNA HCV), terkait dengan penjamu (jenis kelamin, usia dan etnis), juga terkait dengan penyakitnya sendiri (stadium fibrosis dan durasi infeksi).

Selain faktor-fator terkait penjamu, pencapaian SVR berhubungan dengan faktor-faktor metabolik, seperti obesitas, NAFLD, dan resistensi insulin. Patton dan rekan mengevaluasi 574 pasien dengan biopsi hati, sebelum dan sesudah terapi HCV. Derajat stenosis berhubungan dengan indeks masa tubuh, HCV genotipe 3, usia dan durasi penyakit. Pasien dengan stenosis lebih kecil kemungkinannya mencapai early virologic response (EVR) dan SVR. Selain itu, biopsi lever memperlihatkan penurunan steatosis hanya pada pasien yang terinfeksi HCV genotipe 3, tapi tidak pada mereka dengan genotipe 1.

Poynard menyelidiki 1.428 pasien dengan HCV dan menemukan steatosis pada 65% kohort. Steatosis dihubungkan dengan HCV genotipe 3, trigliserida, IMT yang tinggi, stadium fibrosis, dan penurunan respon terhadap pengobatan. Meski demikian, pasien dengan genotipe 3 yang mencapai SVR menunjukkan penurunan steatosis dan perbaikan kadar kolesterol.

Harrison dan kawan-kawan membandingkan HCV plus steatosis atau HCV plus steatohepatitis (SH), terhadap infeksi HCV saja. Pada pasien dengan HCV plus steatosis atau steato hepatitis, SVR secara keseluruhan adalah 28%. Sedangkan pada kelompok kontrol 44%. Selain NAFLD, faktor lain yang mempengaruhi pengobatan adalah indeks masa tubuh yang lebih besar dari 30 dan lingkar perut yang besar. Keduanya adalah tanda sindroma metabolik, yang dapat memperburuk SVR.

Mekanisme hubungan NAFLD, HCV dan rendahnya efikasi terapi antiviral.

Sebagaimana disebutkan, sebelumnya efikasi terapi HCV menurun pada pasien dengan sindroma metabolik dan bisa dipersulit oleh faktor penjamu atau virus. Salah satu faktor terkait penjamu yang berkontribusi pada proses ini, adalah adipositas viseral. Adipositokin dan WAT dapat memperburuk resistensi insulin dan dapat berkontribusi terhadap kondisi proinflammatory pro-oxidative stress dari obesitas. Faktor-faktor ini dapat meningkatkan fibrosis hepatika, yang dengan sendirinya menurunkan angka respon.

Selain itu, stress oksidatif dan sitokin inflamasi dapat secara negative mempengaruhi respon biologis terhadap interferon. Lebih lanjut, obesitas dapat menghasilkan volum distribusi yang lebih tinggi, dan dapat secara potensial menurunkan bioavailbilitas interferon dan menurunkan SVR. Selain obesitas, efikasi pengobatan dapat juga dipegaruhi oleh hepatitis C. Pada kenyataannya, virus HCV dapat mengupregulasi ekspresi suppressor of cytokine signaling (SOCS)-3, yang bisa berfungsi sebagai regulator negative dari signal transducer and activator of transcription (STAT).

STAT 1 dan STAT 2 kemudian difosforilasi oleh tyrosine kinase dan masuk ke dalam nucleus, untuk menginduksi transkripsi gen antiviral. Secara normal, kaskade posforilasi ini terjadi ketika interferon berikatan dengan reseptor interferon dan mengaktifasi tyrosine kinase.

Pada pasien HCV, SOCS-3 menghambat tyrosine kinase dari memfosforilasi STAT-1 and 3, mencegah migrasinya ke dalam nukleus dan meghambat sinyal interferon, yang menyebabkan penurunan SVR. Selain dampak viral pada SOCS, beberapa bukti memperlihatkan bahwa SOCS-3 dapat memperburuk resistensi insulin dengan mengganggu sinyal insulin, melalui degradasi proreasomal dari insulin receptor substrate 1.

Ini dapat meningkatkan resistesi insulin dan kontribusinya pada fibrosis hepatika, serta dampak negatif pada efikasi pengobatan. Meski demikan, mekanisme menurunnya respon terhadap terapi pada pasien dengan hepatitis C kronis, steatosis dan kondisi metabolik tetap tidak diketahui.

BACA HUBUNGAN NAFLD DAN HEPATITIS VIRUS1

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.