Hipertensi dan Menopause | ethicaldigest

Hipertensi dan Menopause

Renin-Angiotensin System

Renin-angiotensin system (RAS) adalah regulator penting dari tekanan darah, cairan dan elektrolit. Estradiol memiliki efek perlindungan kardiovaskular dengan mengendalikan komponen RAS, termasuk menurunkan ekspresi reseptor AT1 pada pembuluh darah dan ginjal, dan menurunkan aktivitas angiotensin 1-converting enzyme (ACE).

Peran RAS terhadap hipertensi pada wanita pasca menopause, kurang jelas dibanding penelitian-penelitian pada binatang. Suatu penelitian plasebo terkontrol selama 2 tahun dari terapi estrogen, tidak menemukan hubungan antara tekanan darah dan plasma renin activity (PRA). PRA meningkat saat pemberian estradiol oral, tapi bukan transdermal. Penelitian-penelitian berskala kecil lainnya menunjukkan hasil serupa, meski beberapa di antaranya menunjukkan penurunan aktivitas ACE dengan terapi sulih hormon oral.

Stress Oksidatif

Stres oksidatif yang tinggi dapat disebabkan produksi spesies oksigen reaktif (ROS), atau menurunnya kemampuan menetralisir molekul reaktif. Pengaruh perbedaan jenis kelamin pada stres oksidatif, dibuktikan dengan lebih tingginya kadar stress oksidatif pada pria. Gonadektomi menurunkan ekskresi H2O2 melalui urin pada SHR jantan dan, meningkatkan ekskresi H2O2 ekskresi wanita. Ini menunjukkan, testosteron meningkatkan stress oksidatif. Sedangkan estrogen menekannya.

Penelitian in vitro dan pada hewan menunjukkan, estrogen memodulasi prooksidan dan ekspresi dan aktivitas ensim antioksidan, termasuk NAD (P) H oksidase dan superoksida dismutase, menghambat produksi ROS. Disimpulkan bahwa kondisi defisiensi estrogen yang terjadi pasca menopause, dihubungkan dengan meningkatnya kadar ROS, yang berkontribusi pada vasokontriksi pembuluh darah dan hipertensi.

Apakah peningkatan ROS terjadi bersama dengan menopause, belum dapat dibuktikan. Satu penelitian menunjukkan, peningkatan nitrotyrosine, suatu penanda peroxynitrite endogen, dan menurunnya nitrosothiols, konsisten dengan rendahnya bioavailbilitas NO, dilaporkan pada wanita postmenopause dibandingkan wanita premenopause.

Estrogen, termasuk estradiol dan metabolit estrogen, menurunkan ROS dengan mengambil radikal bebas. Tapi, apakah terapi sulih hormone pada wanita post menopause dapat memberi perlindungan terhadap penyakit terkait stress oskidatif, masih belum dketahui.

Sensitifitas Garam

Sensitifitas terhadap garam, meningkat bersamaan dengan usia pada laki-laki atau perempuan, dan kemungkinan dimediasi oleh terganggunya vasodilasi sirkulasi darah di ginjal, yang kemungkinan disebabkan menurunnya ketersediaan NO, meningkatkan respon vasokontriksi terhadap angiotensin II. Atau, mengurangi konversi l-arginine menjadi NO dalam endothelium vaskulatur ginjal.

Wanita pasca menopause, tampak menjadi lebih sensitive terhadap garam, dibanding wanita premenopause. Sensitifitas garam dari tekanan darah sistolik pada wanita sehat pasca menopause yang tidak mendapatkan terapi sulih hormone, dapat disebabkan menurunnya bioavailbilitas NO terkait dengan meningkatnya kadar antagonis sintase NO, asymmetrical dimethyl-l-arginine. Pengobatan dengan estradiol transdermal pada wanita pasca menopause, menurunkan senstifitas garam tekanan darah.

Obesitas

Sebuah studi cross-sectional berskala besar, menunjukkan hubungan independen antara IMT dan hipertensi pada wanita, berusia 46-59 tahun. Ada sebuah penelitian berbasis populasi prospektif di Finlandia, yang melibatkan  9485 wanita perimenopause, yang tidak sedang menjalani terapi antihipertensi.

Penelitian ini memperlihatkan, prediktor hipertensi selama 5-tahun follow up meliputi berat badan awal, kenaikan berat badan, dan post menopause status di baseline. Obesitas memiliki hubungan yang lebih kuat dengan hipertensi, pada wanita perimenopause. Sedangkan usia memiliki hubungan yang kuat pada wanita pasca menopause, yang bukan pengguna terapi hormonal.

Mekanisme bagaimana obesitas menyebabkan hipertensi meliputi peningkatan overaktifitas simpatetik, yang tampak erat kaitannya dengan lemak viseral perut, aktivitas simpatetik yang lebih besar meningkatkan pelepasan renin dan pembentukan angiotensin II, yang kemudian meningkatkan produksi aldosteron adrenal, yang berakibat terjadinya retensi sodium. Meningkatnya lemak viseral berhubungan dengan meningkatnya mediator inflamasi, meningkatnya stress oksidatif dan menurunnya vasodilatasi endotel.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.