Obat Pengganti Interferon | ethicaldigest

Obat Pengganti Interferon

Dua senyawa baru — penghambat protease dan penghambat polymerase — berpotensi menggantikan pegylated interferon sebagai regimen pengobatan standar untuk virus hepatitis C. Hal ini dipresentasikan pada The Liver Meeting 2011, pertemuan tahunan ke 62 American Association for the Study of Liver Diseases (AASLD).

Dalam suatu analisa interim dari penelitian fase 2b label terbuka SOUND-C2, para peneliti melihat penghambat protease baru BI 201335 (BI35, Boehringer Ingelheim) dan penghambat polymerase baru BI 207127 (BI27, Boehringer Ingelheim). Analisa ini melibatkan 362 penderita hepatitis C genotipe 1, yang belum pernah mendapatkan pengobatan sebelumnya.

Sebanyak 52% pria, 98% berkulit putih, 85% memiliki viral load RNA hepatitis C setidaknya 800,000 IU/mL pada baseline, 39% mengidap hepatitis C genotipe 1a, 10% menunjukkan sirosis kompensata, dan 26% membawa genotipe interleukin (IL)28B polymorphism C/C.

Kelima kelompok pengobatan yang mendapat BI35, 120 mg sehari adalah:

  • BI27 600 mg 3 kali sehari plus ribavirin selama 16 minggu, selama 28 minggu, atau selama 40 minggu (kelompok tiga kali sehari)
  • BI27 600 mg dua kali sehari plus ribavirin selama 28 minggu (kelompok dua kali sehari)
  • BI27 600 mg 3 tiga kali sehari tanpa ribavirin selama 28 minggu (kelompok yang tidak menggunakan ribavirin).

 

"Menggunakan 2 senyawa dalam 1 penelitian agak sedikit tidak biasa," ucap Federico Mensa, MD, dari Divisi Penelitian Klinis Virology di Boehringer Ingelheim Pharmaceuticals di Ridgefield, Connecticut. "Tujuannya adalah untuk menghilangkan interferon dari regimen pengobatan. Interferon punya banyak efek samping, sehingga banyak pasien enggan menggunakannya," kata Dr. Mensa.

Ia menambahkan, ide dasar dari penelitian ini adalah bahwa kombinasi dari dua agen antiviral yang bekerja secara langsung akan dapat mencegah munculnya resistensi, sebelum ada respon virologis menetap.

Analisa interim dilakukan setelah semua pasien menyelesaikan 12 minggu pengobatan. Data dari 238 pasien dalam kelompok 3 kali sehari pada minggu 16 dan 28 dikombinasikan, karena pasien-pasien tersebut mendapatkan pengobatan yang sama untuk 12 minggu pertama.

Hasil di minggu ke 4 menunjukkan bahwa respon terhadap pengobatan antiviral (viral load RNA hepatitis C di bawah nilai batas bawah) berkisar dari 88% untuk kelompok 3 kali sehari sampai 72% untuk kelompok yang tidak menggunakan ribavirin. Di minggu 12, respon yang didapat berkisar dari 76% untuk kelompok dua kali sehari sampai 57% untuk kelompok yang tidak menggunakan ribavirin.

Di minggu ke 4 dan 8, kegagalan virologis terjadi pada 3,4%, 1,3%, dan 4,3% pasien pada kelompok tiga kali sehari, dua kali sehari dan kelompok yang tidak menggunakan ribavirin. Breakthrough virologist di minggu 12 terjadi pada 13,4%, 20,5%, dan 32,6% pasien dari kelompok dua kali sehari, tiga kali sehari dan yang tidak menggunakan ribavirin.

Pasien yang terinfeksi hepatitis C genotipe 1a, memiliki respon yang lebih rendah dari pasien lain dalam penelitian ini, terutama pasien yang tidak menggunakan ribavirin. Respon terendah adalah pada pasien IL28B non-C/C, pada kelompok yang tidak menggunakan ribavirin (22%). Respon 100% didapatkan pada pasien dengan genotipe C/C pada kelompok yang tidak menggunakan ribavirin. Respon yang sangat baik didapatkan pada pasien dengan genotipe 1b, terlepas dari status IL28B.

"Kecepatan respon virus sampai 12 minggu mencapai 76%, setara dengan respon virologis lengkap yang dicapai dengan penghambat protease generasi pertama plus pegylated interferon," kata Dr. Mensa.

Namun demikian, ada beberapa pasien yang berhenti mengggunakan pengobatan karena alasan lain, selain masalah kegagalan respon virologist. Antara lain karena efek samping dan pasien banyak yang tidak datang lagi untuk follow up. Total ada 17% yang berhenti pengobatan pada kelompok tiga kali sehari, 6% pada kelompok dua kali sehari, dan 13% pada kelompok yang tidak menggunakan ribavirin. Efek samping paling umum adalah gangguan saluran cerna ringan sampai moderat atau masalah kulit. Diskusi sedang berlangsung berkenaan protocol pengobatan untuk penelitian fase tiga menggunakan agen-agen ini.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.