Terapi Hipertensi terkait Obesitas | ethicaldigest

Terapi Hipertensi terkait Obesitas

Hipertensi merupakan masalah di bidang kesehatan, dan faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler. Angka kejadianya menunjukkan peningkatan. Hasil Riset Kesehatan Dasar Rumah Tangga tahun 1996 menunjukkan, prevalensi hipertensi pada laki-laki sebesar 27,4% dan perempuan 9,1%. Tahun 2007, angkanya meningkat menjadi 31,3% pada laki-laki dan 31,9% pada perempuan.

Hipertensi kini tidak hanya menyerang orang lanjut usia. Banyak orang berusia muda dan produktif yang juga menderita hipertensi. Penyebabnya karena perubahan gaya hidup, yang mencakup pola makan tidak sehat dan malas bergerak. Akibatnya, banyak orang-orang berusia muda dengan kelebihan berat badan atau obesitas.

Hubungan hipertensi dan obesitas pada populasi dan golongan etnis, telah banyak dikemukakan. Untuk setiap kenaikan berat badan lebih dari 10%, diperkirakan akan terjadi peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 6,5 mmHg. Sebagian besar penderita hipertensi memiliki berat badan berlebih (overweight) dan hipertensi lebih sering terjadi pada orang dengan obesitas.

Di Indonesia, hipertensi dan obesitas merupakan dua masalah kesehatan yang banyak dihadapi dokter di tingkat layanan primer. Sebab itu, perlu ada peningkatan kompetensi dokter layanan primer dalam menangani hipertensi dan mengatasi faktor risiko obesitas. Indonesian Society of Hypertension (InaSH) telah mengeluarkan buku panduan penanganan hipertensi dan obesitas, sebagai panduan penanganan hipertensi agar lebih optimal.

 

Patogenesis

Meski belum jelas kaitan antara hipertensi dengan resistensi insulin, ada bukti bahwa dalam mekanisme kenaikan tekanan darah terdapat keterlibatan aktivasi sistim saraf simpatis, gangguan regulasi susunan saraf pusat dan aktifasi sistim rennin angiotensin.

Keadaan resistensi insulin bisa mempengaruhi respon tekanan darah, akibat pemberian insulin. Pemberian insulin diketahui dapat mempengaruhi transport natrium di tubulus ginjal. Selain itu, pemberian insulin pada orang obesitas dengan resistensi insulin dapat menurunkan ekskresi natrium di urin. Didapatkan pula perubahan struktur ginjal, yang menyebabkan penurunan fungsi ginjal.

Sel jaringan lemak berlebih dan hipertrofi menghasilkan molekul dan produk, yang menyebabkan aktivasi sistim simpatis dan terbentuknya angiotensin 1 dan aldosteron. Mekanisme naiknya tekanan darah akibat resistensi insulin, juga bisa melalui peningkatan sel-sel otot poloslapisan media arteri, disfungsi endotel dan gangguan keseimbangan elektron intrasel.

 

Terapi obat untuk hipertensi akibat obesitas

Penghambat rennin angiotensin aldosteron

Penghambat rennin angiotensin aldosteron diyakini efektif pada kasus ini, karena adanya aktivasi sistim rennin dan peningkatan sensitivitas terhadap garam, pada penderita hipertensi akibat obesitas. Obat dari golongan ini meliputi angiotensin receptor blocker (ARB), Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor, penghambat rennin langsung  dan mineralocorticoid receptor antagonist (MRA).

Berdasarkan penelitian Kidambi dan kaan-kawan, ACE inhibitor dan ARB lebih efektif sebagai terapi antihipertensi pada penderita hipertensi terkait obesitas, dibanding calcium channel blocker dan diuretik. Menurut penelitian control acak ganda oleh Resisin dan kawan-kawan, lisinopril dosis lebih rendah  sebagai monoterapi lebih efektif dibanding hidroklorothiazide dengan dosis lebih tinggi, pada penderita hipertensi terkait obesitas. Pemberian ACE dan ARB juga diyakini dapat memperbaiki toleransi glukosa, kadar insulin dan komponen lemak visceral.

Berdasar penelitian Kidambi  dan kawan-kawan, MRA merupakan golongan obat yang cukup efektif pada penderita hipertensi terkait obesitas, terutama bila dikombinasikan dengan ACEI, ARB atau diuretic, dan digunakan sebagai pengobatan hipertensi resisten. Golongan obat ini berefek pada peningkatan regulasi RAAS pada penderita dengan obesitas. Pemberian MRA menurunkan tekanan  darah sistolik 21-25mmHg, dan tekanan darah distolik 9-12 mmHg.

 

Diuretik

Pada penderita hipertensi terkait obesitas terdapat retensi natrium dan cairan berlebihan, diuretik adalah pilihan yang tepat. Obat dari golongan diuretik mencakup thiazide, loop diuretics dan potassium sparing diuretics. Obat-obatan ini cukup murah, efektif dan dapat ditoleransi dengan baik. Pada beberapa penelitian, penggunaan monoterapi diuretics setidaknya sama dengan ACE I.

 

Kalsium antagonis

Pada penderita hipertensi terkait obesitas, efek kalsium antagonist dalam menurunkan tekanan darah berkurang. Ini mungkin disebabkan rendahnya resistensi perifer pada individu dengan obesitas. Sehingga kerja kalsium antagonist menjadi tumpul. Meski demikian, kalsium antagonist masih tetap dapat digunakan dan efektif, dalam menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi terkait obesitas dan tidak menyebabkan kanaikan berat badan atau berdampak buruk pada profil lipid. Beberapa kondisi di mana penggunaan kalsum antagonis memiliki efek menguntungkan, adalah pada kasus-kasus dengan angina pektoris, aritmia dam hipertensi pada usia lanjut.

 

Alfa adrenergic blocker

Obat-obatan yang masuk golongan ini antara lain prazosin, terazocin, alfulosin dan doxazosin. Sebagai antihipertensi, obat ini bekerja dengan memblokade reseptor alfa 1, sehingga tidak berikatan dengan noradrenalin. Efek yang ditimbulkan adalah relaksasi sel otot polos, penurunan tonus vaskuler dan penurunan resistensi vaskuler. Selain efek antihipertensi , penyekat adrenergik alfa memiliki efek metabolic yang baik pada penderita hipertensi.

Pada penderita hipertensi yang disertai sindroma metabolik, penghambat adrenergik alfa memiliki banyak manfaat karena efeknya terhadap metabolisme lipid dan glukosa. Efek obat ini dalam memperbaiki profil lipid, antara lain dapat menurunkan konsentrasi kolesterol total karena menghambat penyerapan kolesterol dari makanan dan menurunkan sintesis kolesterol di hati, menurunkan konsentrasi kolesterol LDL, trigliserida, VLDL, dan apolipoprotein (Apo)B, menurunkan oksidasi kolesterol LDL, meningkatkan kolesterol HDL dan ApoA-1.

Efek yang menguntungkan pada terapi penyekat adrenergic alfa-1 terhadap insulin dan kadar kolesterol dan trigliserida, menunjukkan bahwa obat ini memiliki peran yang baik dalam tata laksana hipertensi diabetik. Pada penderita hipertensi dengan obsitas , obat ini juga memiliki efek yang bermakna.

 

Beta blocker

Beta blocker dilaporkan efektif menurukan tekanan darah pada penderita hipertensi terkait obesitas. Meski demikian, ada laporan yang menunjukkan beta blocker memiliki efek metabolic yang tidak diinginkan. Dalam satu meta analisa mencakup lebih dari 90.000 pasien, penggunaan beta blocker meningkatkan risiko timbulnya diabetes onset baru sebesar 22%.

Saat ini, ada beta blocker generasi baru yang memiliki aktivitas ganda sebagai alfa blocker, seperti carvedilol dan agen yang dapat meningkatkan bioavailbilitas oksida nitrat seperti nebivolol. Agen-agen ini dilaporkan memiliki efek netral terhadap berbagai parameter metabolic, seperti profil lipid dan gula darah. Tapi, belum ada bukti yang menunjukkan efektivitas golongan ini dalam menurunkan risiko kardiovaskuler, pada penderita hipertensi terkait obesitas.

Berdasarkan meta analisa tersebut, beta blocker tidak lagi direkomendasikan sebagai terapi lini pertama  pada hipertensi, termasuk hipertensi terkait obesitas, kecuali terdapat compelling indication. Seperti, adanya penyait jantung koroner, pasca infark miokard, gagal jantung kronis dan fibrilasi atrium.

 

Penanganan obesitas pada hipertensi

Dalam panduan yang dikeluarkan InaSH, penatalaksanaan obesitas pada hipertensi mencakup pengobatan resistensi insulin, yang  meliputi pengaturan pola makan, mengonsumsi essential fatty acid, mengonsumsi suplemen yang berkelas farmasi, olah raga dan cukup tidur.

Dianjurkan untuk melakukan penurunan berat badan secara subyektif. Penurunan berat badan 5-15% selama 6 bulan realistis dan terbukti bermanfaat. Penurunan yang lebih besar (>20%) dapat dipertimbangkan untuk derajat obesitas yang lebih besar, yaitu dengan IMT >35  kg/m2. Mempertahankan penurunan berat badan dan pencegahan, serta tatalaksana komorbiditas merupakan 2 unsur utama untuk sukses.

 

Tatalaksana farmakologis

Terapi farmakologis sebaiknya dipertimbangkan, sebagai bagian dari strategi komprehensif penanganan penyakit. Terapi farmakologis diajurkan bagi pasien dengan IMT>30 kg/m2 atau IMT >27 kg/m2 dengan penyakit terkait obesitas, seperti hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, dan sleep apnea.

Penggunaan obat harus mempertimbangkan manfaat dan efek samping. Evaluasi dilakukan setelah 3 bulan. Jika berat badan mencapai target yang diinginkan (>5% berat badan pada non diabetes mellitus dan >3% pada penderita diabetes), maka terapi diteruskan. Pada kelompok yang tidak respon, terapi dihentikan. Beberapa obat yang digunakan antara lain orlistat, lorcaserin, Phentermine /Topiramate, Bupropion/ Naltrexone dan Liraglutide.

Terapi operative dilakukan pada penderita obesitas dengan indikasi khusus dan merupakan slah satu terapi efektif. Pendekatan multidisiplin dibutuhkan untuk mendukung intervensi operasi, dan keputusan untuk melakukan operasi perlu melalui penilaian komprehensif.

 

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.