Alexis Carrel, Pemenang Nobel Kedokteran 1912 | ethicaldigest

Alexis Carrel, Pemenang Nobel Kedokteran 1912

Alexis Carrel (28 Juni 1873 - 5 November 1944) adalah seorang ahli bedah dan ahli biologi berkebangsaan Perancis. Ia dianugerahi penghargaan Nobel di bidang kedokteran, pada tahun 1912 untuk usahanya merintis teknik penjahitan pembuluh darah. Ia menemukan pompa perfusi pertama bersama Charles A. Lindbergh, yang membuka jalan transplantasi organ.

 Seperti banyak intelektual sebelum Perang Dunia II, ia ikut mempromosikan eugenika (suatu teori dan praktik untuk meningkatkan kualitas hidup melalui genetika). Dia seorang pengawas untuk French Foundation for the Study of Human Problems selama pendudukan Nazi di Vichy, Perancis, dan menerapkan kebijakan eugenika. Hubungannya dengan yayasan tersebut, membuatnya diduga berhubungan dengan Nazi.

Lahir di Sainte-Foy-lès-Lyon, Rhône, Carrel dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat dan dididik oleh Jesuit (anggota konggregasi gereja katolik Roma), meski saat menjadi mahasiswa dia menjadi agonistic. Dia adalah pelopor dalam bidang transplantologi dan bedah toraks. Alexis Carrel juga anggota dari masyarakat belajar di AS, Spanyol, Rusia, Swedia, Belanda, Belgia, Prancis, Vatikan, Jerman, Italia dan Yunani. Dia menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Queen di Belfast, Princeton University, California, New York, Brown University dan Columbia University.

Pada tahun 1902, ia menyaksikan penyembuhan ajaib dari Marie Bailly di Lourdes, yang membuatnya terkenal. Setelah ketenarannya tersebut, sulit bagi Carrel untuk mendapat posisi di rumah sakit, karena antiklerikalisme (tidak mempercayai hal-hal mistis), yang mengakar dalam sistem universitas di Perancis waktu itu. Pada tahun 1903, ia pindah ke Montreal, Kanada, tetapi segera pindah ke Chicago, Illinois, dan bekerja di Laboratorium Hull.

Di sana, ia bekerja sama dengan dokter Amerika, Charles Claude Guthrie. Mereka mengerjakan teknik penjahitan pembuluh darah dan transplantasi pembuluh darah dan organ. Untuk usahanya ini, Carrel dianugerahi hadiah Nobel dalam bidang Fisiologi atau Kedokteran tahun 1912.

Pada 1906, Carrel bergabung dengan Rockefeller Institute of Medical Research, yang baru terbentuk di New York. Di sana, dia menghabiskan sisa karirnya. Pada 1930, Carrel dan Charles Lindbergh (penerbang tunggal non stop dari Amerika ke Perancis pada 1927) menjadi teman dekat. Bukan hanya karena bertahun-tahun mereka bekerja bersama-sama, tapi juga karena mereka berbagi pandangan pribadi, politik, dan sosial.

Lindbergh awalnya menemui Carrel untuk konsultasi masalah kesehatan kakak iparnya. Dia ingin tahu, apakah gangguan jantung akibat demam rematik pada kakak iparnya bisa diperbaiki. Saat Lindburgh melihat mesin yang digunakan Carrel, ia malah menawarkan untuk membuat peralatan baru bagi untuk ilmuwan tersebut. Akhirnya mereka membangun pompa perfusi pertama, sebuah penemuan penting dalam perkembangan transplantasi organ dan operasi jantung terbuka.

Karena dekat dengan Parti Populaire Français (PPF) yang fasis dari Jacques Doriot selama tahun 1930, dan perannya dalam melaksanakan kebijakan eugenika selama di Vichy Perancis, ia dituduh terlibat Nazi. Tapi, sebelum menjalani persidangan, dia meninggal.

Carrel menghabiskan hidupnya mempromosikan spiritualisme, meski ia tidak menjalankan agama Katolik semasa mudanya. Pada tahun 1939, ia bertemu dengan biarawan Trappist Alexis Presse. Meski Carrel skeptis tentang pertemuan dengan biarawan.Presse, tapi memiliki pengaruh besar pada sisa hidup Carrel. Dia meminta Presse untuk memberikan Sakramen Katolik di peti jenazahnya, pada bulan November 1944.

Kontribusi di bidang kedokteran

Jahitan pembuluh darah

Carrel adalah seorang ahli bedah berusia muda pada 1894, saat Presiden Perancis Sadi Carnot dibunuh menggunakan pisau. Pembuluh darah perut terputus. Ahli bedah yang menanganinya merasa bahwa pembuluh darah tersebut terlalu besar untuk bisa disambung. Ini membekas pada diri Carrel. Dia mencoba mengembangkan teknik menjahit pembuluh darah. Tekniknya triangulasi, yang terinspirasi dari pelajaran menjahit yang pernah diambilnya, masih digunakan hingga saat ini.

Julius Comroe menulis: “Antara 1901 dan 1910, Alexis Carrel menggunakan binatang untuk melakukan jahitan, dan mengembangkan setiap teknik yang digunakan dalam bedah vaskular saat ini.” Dia berhasil menyambung arteri dan pembuluh darah vena, dan melakukan cangkok organ melalui bedah. 

Antisepsis untuk luka

Selama perang dunia pertama (1914–1918), Carrel dan ahli kimia berkebangsaan Inggris Henry Drysdale Dakin, mengembangkan metode Carrel-Dakin untuk pengobatan luka menggunakan Klorin (larutan Dakin), yang mendahului pengembangan antibiotik. Ini merupakan kemajuan besar dalam perawatan luka traumatic, sehingga dia mendapat penghargaan Légion d'honneur.

Transplantasi Organ

Carrel menulis buku bersama pilot terkenal Charles A. Lindbergh, berjudul Culture of Organs. Dia juga bekerja dengan Lindbergh di pertengahan 1930, untuk mengembangkan pompa perfusi, yang memungkinkan organ hidup tetap hidup di luar tubuh selama operasi. Kemajuan ini dianggap merupakan langkah penting dalam pengembangan operasi jantung terbuka dan transplantasi organ, dan menjadi dasar pengembangan jantung buatan. Beberapa kritik mengatakan, Carrel menggunakan peran Lindbergh untuk mendapat perhatian media. Yang lain mengatakan, Lindbergh berperan penting dalam pengembangan alat tersebut. Lindbergh dan Carrel tampil bersama pada cover Majalah Time, 13 Juni 1938.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.