Albumin pada Gangguan Fungsi Hati | ethicaldigest

Albumin pada Gangguan Fungsi Hati

Menurut dr. Agus Sudiro Waspodo, SpPD, KGEH dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, penyebab virus tersering yang dikenal adalah virus hepatitis B dan virus hepatitis. Riskesdas 2007 menyebutkan, prevalensi HBsAg saat itu 9,4%, atau diperkirakan sebanyak 270.000 jiwa dari seluruh penduduk DKI Jakarta menderita sirosis hati karena virus hepatitis B.

Beberapa faktor yang berpengaruh pada perkembangan hepatitis C kronik menjadi sirosis adalah usia, lama infeksi, alcohol, ko-infeksi dengan HIV, jenis kelamin, kadar CD4 dan derajat fibrosis.Sirosis hati mengakibatkan penurunan fungsi hati, yang berujung pada keadaan yang disebut sirosis dekompensasi. Beberapa gejala klinis dapat muncul seperti edema, asites, SBP, perdarahan gusi, spider naevi, ikterik. Komplikasi serius berujung pada encephaloty hepatic,” jelasnya.

Terapi Albumin

Albumin merupakan protein penting dalam mempertahankan tekanan onkotik plasma darah. Juga berperan menghambat pasase cairan intravaskuler ke dalam jaringan interstitial. Fungsi lainnya adalah: transportasi hasil katabolisme sel menuju organ ekskretoar, transportasi zat toksik akibat keadaan patologi seperti sepsis, kanker, gagal ginjal dan diabetes. Serta, sebagai alat transportasi obat dan hormone menuju sel target dan sebagai antioksidan.

Terapi albumin pada beberapa penyakit, dimaksudkan untuk mempertahankan tekanan onkotik. Namun, molekul albumin mempunyai beberapa fungsi mengikat beberapa zat hydrophobic. Fungsi ini, pada penderita sirosis sangat terganggu. “Kemampuan mengikat fatty acid dan molekul hydrophobic lainnya sangat menurun, bahkan kemampuan sebagai alat transportasi dan detoksifikasi hilang,” jelasnya.

Terapi albumin pada penderita sirosis berkembang, setelah pemakaian albumin pada terapi parasintesis. Disusul pemakaian albumin pada sirosis dekompensasi, dan saat ini dicoba digunakan untuk memperbaiki gangguan sirkulasi pada penderita sirosis. Dengan pemberian albumin terus menerus diharapkan dapat menurunkan angka kejadian komplikasi sirosis seperti ensephalopati, perdarahan saluran cerna dan infeksi bacterial.

Asites merupakan komplikasi paling sering ditemukan pada penderita sirosis. Asites akan terjadi pada 60% penderita sirosis hati kompensasi, dalam perkembangannya selama 10 tahun. Asites akan terjadi bila telah terjadi hipertensi portal, karena ketidak mampuan mengekskresi natrium ke dalam urin. Tertahannya natrium di dalam tubuh, mengakibatkan dilatasi arteri splanchnica yang mengakibatkan penurunan volume darah arteri. Keadaan ini akan mengaktivasi system renin angiotensin. Terjadi vasokontriksi dan retensi natrium, mengakibatkan terjadinya edema dan asites.

The International Ascites Club mengusulkan tatalaksana asites sesuai dengan derajat berat ringan asites yaitu grade 1 ringan, grade 2 sedang dan 3 berat. Pada asites grade 3 dianjurkan terapi parasintesis, disertai restriksi garam dan pemberian diuretika. Gines dkk melakukan penelitian dengan menambahkan albumin infus, saat melakukan large parasintesis. Pada kelompok yang mendapat infus albumin, angka kejadian gangguan fungsi ginjal dan hiponatremia lebih sedikit, dibandingkan  kelompok kontrol.

Albumin pada SBP

Pada penderita sirosis hati dan SBP (spontaneous bacterial peritonitis), fungsi ginjal acap kali menjadi terganggu. Gangguan ini disebabkan menurunnya volume efektif darah arteri. Penurunan fungsi ginjal ini merupakan prediksi penting mortalitas di rumah sakit. Sort dkk melakukan studi, untuk menurunkan angka mortalitas penderita SBP dengan memberikan albumin, untuk mempertahankan volume effektif darah arteri.

Studi yang dilakukan menyimpulkan bahwa pemberian albumin, mencegah gangguan fungsi ginjal dan menurunkan mortalitas pada penderita sirosis hati dengan SBP. Insiden gangguan fungsi ginjal lebih rendah bermakna pada penderita yang memperoleh pengobatan albumin ditambah dengan cefoxtaxime, dibanding kelompok yang hanya memperoleh albumin saja. Dosis albumin yang diberikan 1,5g/kg berat badan saat diagnosis infeksi ditegakkan, diikuti dengan dosis 1 g/kg BB 2 hari kemudian. Hasil penelitian ini mengukuhkan pemberian albumin infus sebagai pengobatan regular, pada penderita SBP pada pasien sirosis.

Studi metaanalisis yang menilai manfaat pemberian albumin pada penderita yang dirawat menyimpulkan, pemberian albumin menurunkan morbiditas penderita yang dirawat di antaranya penderita dengan asites.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.