Uji Penutupan Balon, pada Pasien DSA | ethicaldigest

Uji Penutupan Balon, pada Pasien DSA

Defek Septum Atrium (DSA) merupakan defek atau lubang pada dinding septum atrium. Angka kejadiannya sekitar 6-10% dari penyakit jantung bawaan. Di Indonesia, kasusnya diperkirakan mencapai 4.000-an, dengan risiko laki-laki dan perempuan, 1:2. Menurut DR. Dr. Indriwanto Sakidjan Atmosudigdo, SpJP(K), setidaknya 5-10% pasien DSA yang tidak menjalani penutupan akan mengalami hipertensi pulmoner (HP). Jika DSA tetap tidak ditutup, akan terjadi pirau terbalik dari kanan ke kiri yang dikenal dengan sindrome Eisenmenger (SE).

 Jika kondisi ini sudah ditegakkan, harapan hidup pasien menjadi semakin menurun. “Namun sampai saat ini, indikasi penutupan DSA lebih didasarkan pada perbandingan antara aliran pulmoner dan sistemik, serta resistensi vaskular pulmoner; keduanya tidak menunjukkan ada tidaknya SE, yang merupakan kontra indikasi penutupan DSA,” ujarnya.

Dr. Indriwanto dalam disertasinya mencoba melakukan cara sederhana, untuk menentukan ada tidaknya SE, dengan melakukan uji penutupan balon (UPB) sementara pada DSA. Penelitian dilakukan Juni 2010 - Desember 2011. Desain penelitian quasi-eksperimental dengan melakukan penutupan sementara DSA (UPB). Bila UPB positif tidak terintervensi dan dilakukan pengamatan. Bila UPB negatif maka dilakukan penutupan transkateter DSA menggunakan PSA. Kepada semua pasien dilakukan pemeriksaan uji jalan 6 menit, pemeriksaan laboratorium NT-proBNP serta pemeriksaan ekokardiografi, untuk mengukur ruang-ruang jantung dan estimasi TAP. Semua pemeriksaan dilakukan sebelum 1 hari, 4 minggu dan setelah 12 minggu tindakan.

Hasilnya, dari 61 diagnosis DSA selama periode penelitian, 8 di antaranya dengan HP berat, terjadi pada 7 wanita dan 1 pria dengan rerata usia 32 tahun (19-48 tahun). Rerata diameter DSA adalah adalah 27 (4) mm, rerata TAP adalah 75 (17) mmHg, rerata TAO adalah 91 (16) mmHg dan saturasi oksigen perifer adalah 98 (2)%. Semua pasien dengan hasil UPB negatif, dilakukan penutupan defek dengan PSA. Tidak ditemukan komplikasi pada waktu pemasangan. Pada pengamatan 12 minggu, semua pasien mengalami perbaikan klinis.

Pada pengamatan 12 minggu pasca-PSA, TAP menurun secara bermakna, p=0,001, TAP rerata menurun bermakna, p = 0.012. Dua pasien dapat diamati selama 18 bulan dan keduanya menunjukkan TAP sistolik menjadi normal. Diameter atrium kanan minor (Aka Minor) mengalami penurunan pada 12 minggu pasca PS, p=0,009. Kadar NT proBNP mengalami penurunan, tetapi secara statistik tidak bermakna. Uji jalan 6 menit mengalami peningkatan yang sangat bermakna, pada 12 minggu pasca-PSA, p= 0,005.

Berdasar penelitian dr. Indriwanto pada pasien dengan DSA yang disertai dengan HP berat, UPB dapat dilakukan dengan aman. Mungkin dapat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan untuk memutuskan apakah DSA perlu ditutup atau tidak.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.