Peran Vitamin E dalam Menekan Faktor Inflamasi Pasien Febrile UTI | ethicaldigest

Peran Vitamin E dalam Menekan Faktor Inflamasi Pasien Febrile UTI

Infeksi saluran kemih (ISK) pada anak sering ditemukan dan merupakan penyebab kedua mortalitas penyakit infeksi pada anak, sesudah infeksi saluran napas. Infeksi saluran kemih yang disertai demam disebut febrile urinary tract infection (UTI). Gejala febrile UTI adalah demam (>38,5°C), iritable, muntah, nyeri pinggang tanpa disertai gejala infeksi lain, leukosituria, leukositosis dan peningkatan CRP. Dapat dipastikan dengan adanya pertumbuhan bakteri yang mencapai >100.000 unit koloni per mL urin segar, yang diperoleh dengan cara pancar tengah. Pecile dan kawan-kawan melaporkan, sekitar 59% dari febrile UTI mengalami tanda fase akut pada parenkim ginjal atau pielonefritis akut.

Pielonefritis akut (PNA) pada anak merupakan kondisi terburuk, karena berhubungan dengan kerusakan ginjal di kemudian hari. Parut ginjal merupakan komplikasi berat PNA, dengan angka kejadian yang sangat bervariasi antara 10-65%. Diketahui bahwa pembentukan parut ginjal pada PNA, lebih dihubungkan pada proses inflamasi pada fase akut infeksi, dibandingkan akibat invasi bakteri ke dalam saluran kemih.

Respons jaringan terhadap masuknya bakteri patogen ke dalam traktus urinarius, melibatkan sistim imun yang kompleks, baik sitokin, imunoglobulin, respons selular, serta peningkatan stress oksidatif. Prevalensi febrile UTI meningkat pada bayi dibawah usia 1 tahun, dan menurun setelah usia 5 tahun. Berkembangnya sisitim imun diduga merupakan faktor yang berperan terhadap penurunan prevalens febrile UTI, pada anak diatas usia 5 tahun.

Salah satu aspek sistim imun yang paling dominan pada ISK, adalah keterlibatan interleukin-6 (IL-6) dan interleukin-8 (IL-8). Kedua sitokin tersebut diproduksi secara lokal maupun sistemik, sebagai rekasi awal suatu inflamasi dalam menstimulasi migrasi neutrofil ke dalam traktus urinarius saat infeksi. Sekaligus, berkaitan dengan proses kerusakan ginjal. Interleukin-6 dan IL-8 berperan dalam proses kerusakan parut ginjal. Peningkatan kadar sitokin serum dan urin juga dapat merupakan prediktor timbulnya keruskan ginjal di kemudian hari.

Kadar IL-6 dan IL-8 meningkat pada ISK yang disertai demam tinggi, dan berhubungan dengan derajat penyakit, peningkatan suhu dan peningkatan kadar C-reactive protein (CRP) pada fase akut. Beberapa faktor dapat mempengaruhi sintesis IL-6 dan IL-8. Kadar IL-6 dan IL-8 dipengaruhi oleh withdrawal inhibitor prostaglandin terhadap sintesis IL-6 dan IL-8, sedangkan lactoferrin menghambat sintesis sitokin tersebut.

Pavlova dan kawan-kawan melaporkan, terdapat peningkatan aktivitas antioksidan dalam urin pada anak dengan PNA. Hal tersebut menerangkan bahwa proses kerusakan jaringan ginjal disebabkan oleh proses stress oksidatif, akibat respon reactive oxygen species (ROS) pada ISK. Peroksidasi lipid akibat aktivasi ROS akan menghasilkan produk akhir, seperti malondialdehyde (MDA). Faktor Hlya E.coli meningkatkan aktivitas ROS serta peningkatanaktivitas NADPH oxidase, yang menunjukkan karakter patogenitas E.coli dibandingkan uropatogen lainnya.

Beberapa upaya telah dilakukan untuk mencegah keruskan ginjal pada PNA, namun belum ada hasil yang memuaskan. Atas dasar itu Dr. dr. Bobby Setiadi Dharmawan, SpA, melakukan penelitian untuk mengetahui manfaat vitamin E pada tatalaksana febrile UTI; lebih sepesifik lagi pada penanda inflamasi IL-6 dan IL-8, dan MDA rutin.

Penelitian dilakukan di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, pada anak berusia 6-60 bulan dengan febrile UTI, melalui uji klinis acak tersamar ganda (n=40). Pada kelompok kasus diberikan 40 UI DL-α-tocopherol, dan kelompok kontrol diberi saccharum lactis selama 10 hari. Kedua kelompok mendapat terapi antibiotik yang sama. Pemantauan demam, leukosit darah, IL-6, IL-8 dan MDA urin dilakukan pada hari ke-0, hari ke-3 dan hari ke-10. Analisis interleukin-6, dan IL-8 serta MDA urin dilakukan di laboratorium biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Hasilnya, didapatkan kadar interleukin-6 urin yang lebih rendah pada kelompok yang diberi vitamin E. Dalam penelitian ini, meski vitamin E mampu menurunkan IL-8 urin, namun tidak berbeda bermakna dibanding kelompok plasebo. Leukosit darah pada kelompok vitamin E lebih menurun dibanding kelompok plasebo, namun keduanya dalam batas normal. Perubahan MDA urin kedua kelompok tidak berbeda bermakna.

Menurut dr. Bobby, pemberian ASI ternyata dapat menurunkan IL-6 dan IL-8 urin secara bermakna. Riwayat ibuprofen meningkatkan IL-6 dan IL-8 urin secara bermakna. Infeksi E.coli lebih meningkatkan MDA urin dibanding uropatogen lain.

Dengan hasil penelitiannya yang mampu dipertahankan di hadapan dewan penguji pada 11 januari 2016, dr. Bobby berhasil meraih gelar Doktor bidang Ilmu Kedokteran di FKUI. (ant)

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.