Peran Stres Oksidatif pada Sel Endometriosis dan Sel Kanker Ovarium | ethicaldigest

Peran Stres Oksidatif pada Sel Endometriosis dan Sel Kanker Ovarium

Endrometriosis merupakan suatu kelainan ginekologi jinak. Didefinisikan sebagai adanya jaringan endometrium, yang terletak di tempat selain dalam rongga rahim.  Angka kejadian endometriosis diperkirakan sekitar 10-20%, pada wanita usia reproduksi. Salah satu masalah klinis endometriosis adalah tingginya angka kekambuhan dan tidak dapat dicegah, sehingga kerap membutuhkan pembedahan ulang.

Endometriosis dapat menyebar ke organ seperti rektum, vagina, dan serviks mau pun ke organ jauh seperti dinding abdomen, traktus urinarius dan rongga dada. Endrometriosis juga memiliki kemampuan menempel, menghancurkan dan invasi pada jaringan lain, serupa dengan karakteristik kanker. Selanjutnya, kelainan ini dapat berubah menjadi kanker. Penderita endometriosis mempunyai risiko menderita kanker ovarium 4; ini dua kali lebih tinggi dibanding dengan bukan penderita endometriosis.

Secara genetik pada proses pertumbuhan tumor ada gen yang berfungsi menekan pertumbuhan tumor. Pada endometriosis, gen tersebut antara lain adalah ARID1A (AT-rich Interactive Domain 1A). Gen ini bila mengalami gangguan fungsi, tidak dapat menekan pertumbuhan tumor. Terjadinya gangguan fungsi pada gen ini, sudah lama dianggap berperan dalam perkembangan kanker ovarium yang berasal dari endometriosis.

Endometriosis yang mempunyai kekhasan berupa tingginya kadar radikal bebas, dianggap lebih rentan untuk berubah menjadi tumor ganas atau kanker. Perubahan ini salah satunya dipicu tingginya radikal bebas. Radikal bebas ini dianggap sebagai salah satu faktor, yang dapat menekan dan mengganggu fungsi gen ARID1A, yang menekan pertumbuhan tumor. Atas dasar inilah dr. Hariyono Winarto, SpOG(K) melakukan penelitian, untuk mengkaji lebih lanjut peran stress oksidatif terhadap perubahan ekspresi gen supresor tumor ARID1A.

Metode penelitian yang dilakukan dr. Hariyono, dimulai dengan mengikutsertakan 10 sampel jaringan kanker ovarium, 10 sampel endometriosis dan 3 jaringan endometrium eutopik sebagai control, yang diisolasi mRNA dan proteinnya. Analisis ekspresi gen ARID1A pada tingkat mRNA, dilakukan dengan pemeriksaan RT-qPCR dan pada tingkat protein dengan ELISA. Pada sel endometriosis dan kanker ovarium, dilakukan analisis stress oksidatif dengan pemeriksaan aktivitas antioksidan MnSOD dan pemeriksaan kadar MDA, sebagai salah satu bukti kerusakan salah satu komponen sel. Setelah itu dilakukan uji eksperimental pada kultur sel endometriosisdan endometrium eutopik sebagai kontrol. Kedua sel kultur diinduksi dengan H2O2 konsentrasi 0 nM, 100 nM, 1000 nM. Analisis dilakukan terhadap ketahanan hidup sel, kadar ROS dan ekspresi gen ARID1A pada tingkat mRNA protein.

Hasilnya menunjukkan efek induksi H2O2 dalam menekan ekspresi gen ARID1A sel endometriosis dan sel endometrium eutopik pada tingkat mRNA dan protein, bermakna, meski pun pada kanker ovarium tidak bermakna.

“Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa terganggunya fungsi gen ARID1A, sudah terjadi pada endometriosis jauh sebelum endometriosis mengalami perubahan menjadi ganas. Hal lain lagi didapatkan bahwa ternyata faktor berlebihnya radikal bebas, dapat menekan fungsi gen ARID1A,” jelas dr. Hariyono.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa rendahnya ekspresi gen supresor tumor ARID1A pada endometriosis, dapat merupakan factor yang membuat endometriosis menjadi lebih rentan terhadap perubahan keganasan, dibandingkan bukan penderita endometriosis. “Namun demikian, termuan ini tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa setiap penderita endometriosis akan menjadi penderita kanker. Penelitian ini hanya memandang masalah dari salah satu factor, dari banyak factor yang berpengaruh dalam perubahan endometriosis menjadi ganas,” jelas dr. Hariyono.

Paparan hasil penelitian tersebut berhasil dipertanggungjawabkan di hadapan tim penguji dalam sidang Promosi Doktor, Program Pendidikan Doktor Ilmu Biomedik FKUI, yang berlangsung Senin (14/7)    di Aula Fakultas Kedokteran UI. Bertindak sebagai Ketua Tim Penguji Prof. Dr. dr. Andrijono, SpOG(K) dengan anggota penguji Prof. Drs. Purnomo Soeharso; Dr. dr. Muharam Natadisastra, SpOG(K); dan Dr. Ir. I Made Artika, M. App. Sc (Institut Pertanian Bogor).

Dr. Hariyono Winarto, SpOG(K), staf pengajar di Divisi Onkologi Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI-RSCM, mempresentasikan disertasinya berjudul “Peran Stress Oksidatif terhadap Ekspresi Gen Supresor Tumor ARID1A pada Sel Endometriosis dan Kanker Ovarium”. (ant)

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.