Peran Alopurinol Pada Tetralogi Fallot | ethicaldigest

Peran Alopurinol Pada Tetralogi Fallot

“Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah penyakit bawaan paling sering ditemukan. Tingkat kejadiannya sekitar 35.000-40.000 kasus per tahun. Tetralogi Fallot (TF) merupakan PJB sianotik yang paling sering ditemukan, tingkat insidensnya 5-10% dari tiap kasus,” kata Dr. dr. Fathema Djan Rachmat, SpB, BTKV, saat mempertahankan disertasi doktor. 

Tindakan korektif pada TF, yaitu dengan melakukan operasi jantung terbuka  menggunakan mesin pintas jantung paru (PJP) atau cardiopulmonary bypass (CPB), dengan mortalitas antara 4-4½%. Komplikasi pascabedah yang terpenting adalah stres oksidatif akibat cedera iskemia-reperfusi, dan terjadinya sindrom respons inflamasi sistemik yang berdampak pada kematian jika tidak ditangani dengan baik.

Disertasinya bertujuan untuk menganalisa peran alurinol, dalam mengurangi efek stres oksidatif cedera iskemia-reperfusi dan menganalisa respons adaptasi kardiomiosit terhadap iskemia, pada pembedahan koreksi TF.

“Efek alopurinol sebagai ekspresi spesies oksigen reaktif (SOR) kardiomiosit ventrikel kanan, respons inflamasi tumor necrosis factor (TNF)-α, sebagai antioksidan endogen superoksida dismutase (SOD), dan pembentuk malondialdehid (MDA) untuk menunda kerusakan sel,” katanya.

Penelitian dilakukan di Pelayanan Jantung Terpadu (PJT) RSCM, Jakarta, melibatkan 26 subjek pasien TF yang menjalani operasi bedah koreksi. Subjek penelitian dilakukan randomisasi untuk menerima alopurin-ol oral 3x dengan dosis 10 mg/kg, atau plasebo. Sampel jaringan berupa otot infundibular alur keluar ventrikel sentral dan secara langsung dari sinus koronarius selama pintas jantung paru (PJP).

Efek alopurinol dilihat melalui pemeriksaan ekspresi SOR, menggunakan diklorofluoresein diasetat (DCFH) dan flowcytometry. Sedangkan konsentrasi TNF-α dalam darah dengan menggunakan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), SOD dan MAD diukur dengan spektrofotometri. Pengukuran ekspresi HIF-1α sebagai respons adaptasi kardiomiosit ventrikel kanan dengan mengukur aktivitas binding HIF-1α, hanya pada kelompok kontrol.

Hasilnya, pada kelompok alopurinol didapatkan penurunan ekspresi SOR oleh kardiomiosit bilik jantung kanan pada fase reperfusi, dan konsentrasi SOD dalam darah meningkat pada fase iskemia. Sedangkan pengaruh alopurinol pada konsentrasi TNF-α dan MDA belum terbukti dalam penelitian ini. “Tapi terdapat kecenderungan penurunan stabilitas komsentrasi pada TNF-α dan MDA di dalam darah. Sedangkan aktivitas binding HIF-1α pada kelompok kontrol, menunjukkan penurunan pada fase iskemia dan peningkatan pada fase reperfusi,” ujarnya.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.