Pengaruh Lama Pemberian ASI Terhadap Risiko Penyakit Kardiovascular | ethicaldigest

Pengaruh Lama Pemberian ASI Terhadap Risiko Penyakit Kardiovascular

Penyakit kardiovaskular (PKV) dewasa ini masih menjadi penyebab kematian utama di dunia. Prevalensi penyakit ini terus meningkat di Negara berkembang termasuk di Indonesia. Menurut Dr. dr. Sukman Tulus Putra SpA(K), FACC, dalam acara promosi doktornya, 3 Oktober 2013 di Ruang Senat Akademik Fakultas Kedokteran Indonesia, Jakarta, perkembangan PKV telah dimulai sejak awal kehidupan. Terbukti bahwa fatty streaks sebagai sebuah lesi awal aterosklerosis, telah ditemukan pada anak berusia <1 tahun. Faktor risiko kardiovaskular lain seperti hiperkolesterolemia, juga ditemukan pada anak dan remaja.

Saat ini, ada beberapa pemeriksaan yang dianjurkan untuk deteksi dini aterosklerosis. Seperti dengan mengetahui Ketebalan Tunika Intima Media (KTIM), Flow Mediated Dilatation (FMD) yang menandakan adanya disfungsi endotel, high-sensitive C-Reactive Protein (hs-CRP), dan penanda cidera awal pembuluh darah Vascular Cell Adhesion Molecule (VCAM).

Terdapat berbagai faktor yang juga berpengaruh terhadap pembentukan aterosklerosis. Nutrisi awal pada masa bayi diduga berperan besar dalam proses terjadinya PKV. Di lain pihak, ASI yang kaya akan Long Chain Polyunsaturated Fatty Acid (LCPUFA) dilaporkan memiliki efek proteksi terhadap PKV, meski ada studi yang menunjukan hasil berbeda. Semantara, lama pemberian ASI yang optimal terkait dengan risiko kardiovaskuler belum diketahui pasti. Tujuan penelitian yang berjudul “Deteksi Disfungsi Endotel vascular Pada Remaja Sebagai Penanda Awal Aterosklerosis” ini, adalah untuk mengevaluasi pengaruh lama menyusui terhadap karateristik pembuluh darah dan faktor risiko kardiovaskular lainnya pada remaja.

Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif, bertujuan untuk membandingkan faktor risiko penyakit jantung koroner antara kelompok remaja berusia 15-18 tahun yang pada masa bayi mendapat ASI ,dengan lama pemberian berbeda.

Penelitain dilakukan di SMA Negeri 1 Jakarta, bulan Oktober 2012 - Maret 2013. Pemeriksaan ultrasonografi vascular dilakukan di sekolah mengunakan alat general electric logic E portable automatic. Pemeriksaan laboratorium dilakukan di laboratorium patologi klinik RSCM.

Data mengenai lama pemberian ASI, diperoleh dari kuesioner yang diisi  orangtua dan dikelompokan menjadi 0-<2, 2-<4, 4-<6, 6-<12 dan >12 bulan. Analisis statistik dilakukan dengan uji ANOVA, dilanjutkan dengan MANOVA general linear model dengan factor risiko kardiovaskular sebagai variable dependen, dan lama pemberian ASI sebagai variable independen dengan memperhitungkan variable perancu.

Hasilnya, dari 285 subyek yang diikut sertakan dalam penelitian terdapat perbedaan berat badan yang bermakana secara statistik, berdasarkan lama pemberian ASI (p=0,020); semakin lama pemberian ASI semakin rendah berat badan subjek.

Seiring dengan meningkatnya lama pemberian ASI, tekanan darah dan KTIM cenderung menurun meski hal ini tidak bermakna secara statistik. Semakin lama pemberian ASI, IMT dan lingkar pinggang pada masa remaja cenderung lebih kecil. Terdapat hubungan yang bermakna, antara lama pemberian ASI 4-<6 bulan dengan KTIM. Remaja yang pada masa bayi mendapatkan ASI selama 4-<6 bulan memiliki KTIM yang lebih tipis, dibanding remaja dengan lama menyusui lainnya dengan p=0,045, perbedaan rerata KTIM=24,28 mikrometer. Remaja dengan pemberian ASI 4-<6 bulan juga cenderung memiliki pembuluh darah yang lebih elastic (FMD lebih besar), namun hasil tidak bermakna secara statistik.

Penelitian ini menghantarkan dr. Sukman meraih gelar doctor, dalam bidang Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia. (ant)

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.