Hubungan Kekambuhan Pasien LLA Terkait Terapi Vinkristin dengan Polimorfisme Gen MDR1 | ethicaldigest

Hubungan Kekambuhan Pasien LLA Terkait Terapi Vinkristin dengan Polimorfisme Gen MDR1

Leukemia merupakan penyakit keganasan sel darah, yang paling sering terjadi pada anak. Angkanya berkisar 3-5 dari 100.000 individu. Data National Cancer Institute menyatakan, sepertiga kanker pada anak adalah leukemia. Jenis leukemia yang paling banyak adalah leukemia limfoblastik akut (LLA). Kejadian LLA  paling banyak ditemukan pada anak usia 2-5 tahun (80%) dan paling sering ditemukan pada anak laki-laki.

Sebagian besar kegagalan pengobatan karena kekambuhan atau kembalinya penyakit. Angka kejadian kekambuhan pada pasien anak cukup tinggi, sekitar 20-40%. Sebanyak 20% pasien yang mengalami kekambuhan umumnya meninggal. Menurut dra. Rina Mutiara, Apt, M.Pharm, pasien yang mengalami kekambuhan umumnya meninggal dan hasil pengobatan pada kekambuhan lanjut umumnya tidak baik.

Pasien yang mengalami kekambuhan untuk kedua kali, yang dapat bertahan hidup hingga 3 tahun hanya sekitar 8%. Data pasien anak di Bagian Hematologi Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM periode 2005-2011 menunjukan, 40% pasien mengalami kekambuhan dari 126 pasien yang didiagnosis LLA. “Kekambuhan bisa akibat faktor usia, keparahan penyakit, interaksi obat, resistensi obat dan status nutrisi,” ujarnya.

Vinkristin merupakan obat yang paling sering digunakan dan efektif untuk leukemia, lympoma, tumor otak dan tumor padat pada dewasa maupun anak-anak. Vinkristin diberikan beberapa kali selama pengobatan untuk pasien anak dengan LLA. “Keluarga transporter sering menunjukkan resistensi silang pada beberapa obat sitostatika, yang disebut multidrug resistance (MDR) termasuk alkaloid vinka seperti vinkristin. Tujuan penelitian yang dilakukan dra. Rina adalah untukmengetahui, apakah ada hubungan kekambuhan pasien anak LLA terkait terapi vinkristin dengan polimorfisme gen MDR1.

Studi dilakukan di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, selama Februari 2014 sampai Januari 2015, dengan desain penelitian cohort. Kriteria pasien dengan LLA berusia lebih dari 1 tahun hingga usia kurang dari 18 tahun. Sampel merupakan pasien yang baru didiagnosis LLA dan pasien yang sedang menjalani kemoterapi fase induksi. Pemeriksaan sensitifitas obat in vitro dari sampel darah metode flow cytometry, dengan menghitung Leukemia Cell Survival Index (LCSI). Penelitian pendahuluan gen MDR1 dengan RFLP dan polimorfisme dengan multiplex PCR. Data klinis pasien dilihat secara retrospektif dari catatan medis. Inform consent diperoleh dari pasien atau orangtua pasien.

Hasil penelitian menunjukkan, dari sampel yang memenuhi kriterai inklusi sebanyak 101 pasien terdiri dari 63 (62,4%) laki-laki dan 38 (37,6%) perempuan. Kekambuhan pasien LLA dipengaruhui oleh faktor usia, kelompok risiko dan jumlah leukosit (p<0.05). Kekambuhan tidak dipengaruhi jenis kelamin, imunofenotip, tipe LLA, dan sel blast.

Hasil sensitivitas vinkristin sebesar 46,2% sensitif, dengan nilai rata-rata LCSI sebesar 32,1%. Polimorfisme gen MDR1 dengan multiplex PCR menunjukkan alel T lebih dominan dibandingkan alel C (50,45% vs 31,25%). Pasien anak LLA risiko tinggi yang mempunyai gen MDR1 C3435T genotip TT, bermakna menyebabkan kekambuhan dan mempunyai risiko paling tinggi yaitu 7,7 kali. Mutasi gen MDR1 C1236T genotip TT, bermakna menyebabkan kekambuhan dan mempunyai risiko kekambuhan 6 kali dan gen MDR1 G2677T genotip GT 3,4 kali. Hasil terapi selama periode penelitian menunjukkan, sebanyak 36 pasien (35,6%) mengalami kekambuhan dan remisi sebanyak 65 pasien (64,4%).

“Risiko kekambuhan pasien LLA, multifaktorial. Tidak ada faktor kuat yang menjadi penyebab kekambuhan,” ujarnya. Dengan disertasinya ini, dra. Rina Mutiara memperoleh gelar Doktor Ilmu Biomedik dari FKUI dengan Yudisium A, 24 November 2016.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.