Hubungan Kadar Estradiol, Menarche Dini dan Kejadian Kanker Payudara | ethicaldigest

Hubungan Kadar Estradiol, Menarche Dini dan Kejadian Kanker Payudara

Kanker payudara merupakan kanker yang paling sering diderita oleh perempuan di seluruh dunia. Globocan International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2008 melaporkan, terdapat 1,38 juta kasus kanker payudara (23% dari seluruh kanker) dan menjadi penyebab kematian tersering (14%) pada perempuan.  Di Indonesia, insiden kanker payudara dilaporkan terjadi 26/100.000 perempuan. Data ini melebihi insiden kanker serviks, 16/100.000 perempuan.

Menurut dr. Ririn Hariani, MS, SpGK, banyak faktor yang dikaitkan dengan risiko terjadinya kanker payudara, baik faktor hormonal mau pun faktor non-hormonal. “Faktor hormonal telah lama diketahui berperan dalam karsinogenesis beberapa kanker seperti kanker payudara, kanker ovasrium, endometrium, prostat, testis dan tiroid,” jelasnya.

Estrogen, terutama dalam bentuk estradiol, merupakan salah satu hormon terpenting dan berkaitan dengan terjadinya kanker payudara. Perempuan dengan kanker payudara mempunyai kadar estrogen 15% lebih tinggi, dibanding perempuan yang tidak kanker. Usia menarche, usia saat mendapat haid pertama, diketahui mempengaruhi panjangnya paparan estrogen terhadap jaringan payudara. Menarche dini (menarche sebelum usia 12 tahun) berhubungan dengan peningkatan kadar estradiol, yang dapat berlanjut sampai usia dewasa. Kadar estradiol dalam tubuh dan kejadian menarche dini, dipengaruhi beberapa faktor seperti asupan gizi, status antropometri, komposisi tubuh serta aktivitas fisik.

Masa pubertas merupakan masa untuk terjadinya pertumbuhan dan pematangan jaringan payudara serta organ reproduksi. Komposisi diet saat pubertas yang tidak seimbang dan gaya hidup tidak sehat, dapat mempengaruhi risiko terjadinya kanker payudara di kemudian hari. Saat ini belum ada data yang menyeluruh pada remaja putri di Indonesia mengenai asupan gizi, antropometri, komposisi tubuh, aktivitas fisik dan kadar estradiol perimenarchal serta kejadian menarche dini. “Perlu dilakukan penelitian untuk  mengetahui keterkaitan asupan gizi, status antropometri dan komposisi tubuh. Juga aktivitas fisik sebagai faktor determinan kadar estradiol dan menarche dini pada remaja putri, sebagai upaya pencegahan kanker payudara,” jelas dr. Ririn.

Penelitian yang dilakukan melibatkan 189 remaja putri usia 13-15 tahun yang sudah mendapat haid. Pengambilan data dilakukan di 8 Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri dan swasta di Jakarta,  bulan Januari 2014 sampai Januari 2015. Setiap subjek diperiksa kesehatannya, dilakukaan pengukuran antropometri, diwawancara untuk mendapat data mengenai asupan gizi dan aktivitas fisik, dan diambil darahnya untuk diperiksa kadar estradiol.

Penelitian ini berhasil mendapat gambaran asupan gizi remaja putri di Jakarta yaitu cukup karbohidrat, kurang protein, tinggi lemak, dan rendah serat. Selain itu status gizi berdasarkan kriteria Z-score IMT per umur dari WHO, ditemukan sebagian besar subjek (73,5%) mempunyai status gizi normal, 18% mengalami overweight dan 5,3% mengalami obese. Lebih dari 90% subjek penelitian memiliki aktivitas fisik rendah dan 22,8% subjek mengalami menstruasi pertama (menarche) pada usia kurang dari 12 tahun (menarche dini). Penelitian ini juga menemukan bahwa kadar estradiol, mempunyai hubungan bermakna secara statistik dengan asupan energi, protein, dan lemak. Dan faktor yang berhubungan dengan menarche dini adalah status gizi, lingkar lengan atas dan lingkar pinggang.

Dengan kata lain, untuk menurunkan faktor risiko kanker payudara, perlu memperhatikan faktor-faktor yang terkait kadar estradiol dan menarche dini, yaitu asupan lemak, aktivitas fisik, dan mempertahankan berat badan normal.

Penelitian berjudul “Faktor determinan kadar estradiol dan menarche dini pada remaja putri usia 13-15 tahun di Jakarta: Studi Epidemiologi Gizi Terkait faktor Risiko kanker Payudara” ini dipertahankan di hadapan penguji pada 28 Oktober 2015 di Ruang Senat Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Dokter Ririn berhasil meraih gelar Doktor dengan IPK 3,84. (ant)

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.