Hasil Pajanan Konsentrasi Oksigen Awal FiO2 30% vs 50% pada Bayi Prematur | ethicaldigest

Hasil Pajanan Konsentrasi Oksigen Awal FiO2 30% vs 50% pada Bayi Prematur

Lebih dari 1 juta bayi di dunia setiap tahunnya memerlukan bantuan resusitasi, untuk dapat beradaptasi dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. Resusitasi yang tidak optimal dapat mengakibatkan kerusakan berat, bahkan kematian pada bayi prematur.

Menurut Dr. dr. Risma Kerina Kaban, SpA(K), indikasi resusitasi aktif saat lahir pada bayi prematur berbeda dengan bayi cukup bulan. Hal ini karena pada bayi prematur usaha napas lemah, ada insufisiensi paru seperti defisiensi surfaktan dan hipoplasia paru. Dengan pajanan oksigen yang tinggi dan berfluktuasi, akan meningkatkan morbiditas seperti displasia bronkopulmonal (DBP) dan retinopathy of prematurity (ROP).

Sejumlah bayi prematur memerlukan oksigen saat resusitasi. Namun, pemberian oksigen yang berlebihan dapat meningkatkan stress oksidatif. Bayi prematur yang mempunyai antioksidan rendah, tidak dapat mengatasi efek berbahaya senyawa oksigen reaktif (SOR). Ketidakseimbangan ini akan menyebabkan terjadinya stress oksidatif, yang akan memengaruhi proses pematangan beberapa gen dan kerusakan beberapa sel jaringan, antara lain ginjal, retina, paru dan saluran cerna.

Stres oksidatif juga mempengaruhi permeabilitas dan mikrobiota usus. Inflamasi dan kerusakan epitel usus akibat stres oksidatif, diduga dapat menyebabkan terjadinya peningkatan gangguan integritas dan permebilitas dinding usus, yang dapat dideteksi menggunakan alpha-1 antitrypsin (AAT) pada feses. Peningkatan pajanan O2 di usus, juga diduga dapat meningkatkan populasi bakteri fakultatif anaerob karena mikroba anaerob tidak dapat hidup di lingkungan yang kaya oksigen. “Masih tingginya keraguan akan dampak pemberian oksigen pada resusitasi, mendorong saya untuk melakukan kajian lebih lanjut mengenai perubahan angka kejadian DBP, serta intergritas dan mikrobiota usus pada bayi yang diresusitasi dengan FiO2 30% vs FiO2 50%,” ujar dr. Risma.

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian uji klinis acak terkontrol tidak tersamar pada bayi prematur, yang mengalami distres pernapasan dan memerlukan resusitasi saat lahir. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Bunda, Menteng, Jakarta, selama periode Januari – September 2015.

Sampel dipilih secara konsekutif. Selain itu dilakukan randomisasi blok. Terdapat dua kelompok penelitian, yaitu kelompok perlakukan (kelompok yang mendapat resusitasi dengan FiO2 50%) dan kelompok kontrol (kelompok yang mendapat resusitasiawal dengan FiO2 30%). Penelitian ini dilaksanakan oleh tim resusitasi risiko tinggi di ruang persalinan. Intervensi di ruang persalinan dicatat dengan teliti. Pada ibu yang diprediksi akan melahirkan bayi prematur 25-32 minggu, diminta untuk menandatangani informed consent.

Semua data yang diperoleh dicatat pada formulir penelitian yang telah disiapkan. Data selanjutnya dimasukkan ke database menggunakan program statistic package for the social sciences (SPSS) versi 20, untuk menghitung nilai p dan nilai rata-rata serta sampling baku (SB) untuk variabel kuantitatif.

Uji chi-square dengan alternatif uji fisher, dilakukan untuk mengetahui perbedaan angka kejadian DBP. Uji T tidak berpasangan dengan alternatif mann-Whitney untuk mengetahui perbedaan kadar MDA, rasio GSH/GSSG, kadar AAT, dan mikrobiota usus. Berdasarkan data angka kejadian DBP pada bayi prematur, untuk mendeteksi 30% perubahan 35 sampel dibutuhkan untuk tiap kelompok menggunakan two sided and level of 0,05 and a power of 0,8. Untuk menghindari kemungkinan 20% pasien drop out, sebanyak 42 bayi diikut sertakan pada masing-masing kelompok.

Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan, angka kejadian DBP tidak berbeda bermakna antara bayi prematur yang diresusitasi dengan FiO2 awal 30% dan FiO2 50%. Penanda stres oksidatif (rasio GSH/ GSSG dan kadar MDA) tidak berbeda bermakna, antara bayi prematur yang diresusitasi dengan FiO2 awal 30% dan FiO2 50%. Gangguan integritas usus (kadar AAT feses) tidak berbeda bermakna, antara bayi prematur yang diresusitasi dengan FiO2 awal 30% dan FiO2 50%. Proporsi kuman anaerob fakultatif dan anaerob tidak berbeda bermakna, antara bayi prematur diresusitasi FiO2 awal 30% dan FiO2 50%.

Atas penelitiannya ini dr. Risma Kerina Kaban, SpA(K), mendapat gelar doktor pada program pendidikan doktor ilmu kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 10 Mei 2016. Doktor Risma memperoleh yudisium A dengan nilai 3,8. (ant)

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.