Efek Resusitasi Cairan dalam Jumlah Besar pada Anak dengan Rejatan | ethicaldigest
Dr_dr_AntoniusHockyPudjiadi

Efek Resusitasi Cairan dalam Jumlah Besar pada Anak dengan Rejatan

Renjatan (syok) adalah kegagalan sistim sirkulasi memenuhi kebutuhan oksigen jaringan. Sistim sirkulasi terdiri dari jantung, pembuluh darah dan darah yang mengalir di dalamnya. Darah mengangkut oksigen yang terikat pada hemoglobin, yang terdapat dalam sel darah merah. Pada anak seringkali renjatan terjadi karena kekurangan cairan, misalnya akibat diare atau demam berdarah dengue.

Pada demam berdarah dengue, kekurangan cairan terjadi karena cairan dalam pembuluh darah bocor, membanjiri jaringan sekitarnya. Keluarnya cairan terjadi karena kerusakan lapisan glycocalyx, yang melapisi dinding dalam pembuluh darah. Umumnya renjatan diterapi dengan cairan elektrolit yang dimasukkan melalui infus.

Banyak pedoman resusitasi menganjurkan pemberian cairan infus dalam jumlah besar, dengan tujuan untuk segera memulihkan pasokan oksigen. Kegalauan terjadi karena pemberian cairan dalam jumlah besar mengencerkan darah, hingga kadar hemoglobin menurun. Selain itu cairan yang diberikan dalam jumlah besar meregang diding jantung, disusul keluarnya hormon atrial natriuretic peptide (ANP).

Penelitian pada pembuluh darah marmot memperlihatkan bahwa ANP, mengakibatkan peluruhan lapisan glycocalyx hingga terjadi kebocoran pembuluh darah. Kebocoran di paru menyebabkan cairan paru meningkat dan pasien sulit bernapas. Selain menyebabkan kebocoran pembuluh darah, ANP juga melebarkan pembuluh darah hingga menurunkan tekanan darah.

Untuk menguji efek resusitasi cairan, Dr. dr. Antonius Hocky Pudjiadi, SpA(K), melakukan penelitian untuk disertasi doktor berjudul, “Pengaruh Resusitasi Cairan terhadap Hemodinamik Sus scrofa sebagai Model Renjatan: Kajian pada Atrial Natriuretic Peptide, Glycocalyx Endotel dan Pasokan Oksigen”. Disertasinya dipaparkan dihadapan para penguji, 8 Juni 2018.

Penelitian bertujuan untuk melihat pengaruh resusitasi cairan terhadap kadar ANP serum, peluruhan glycocalyx endotel vaskular, extravascular lung water index (ELWI), mean arterial pressure (MAP), kadar hemoglobin dan pasokan oksigen. Hewan model rejatan adalah 11 ekor Sus scofa jantan, usia 6-10 minggu. Rejatan dibuat dengan mengeluarkan darah dari hewan model.

Resusitasi pertama dilakukan dengan jumlah cairan sesuai dengan darah dikeluarkan (resusitasi normovolemik), dilanjutkan dengan 40mL/kg (resusitasi hipervolemik). Pengukuran hemodinamik dilakukan dengan PICCO. Serum ANP dan Syndecan-1, petanda peluruhan glycocalyx, dilakukan dengan teknik ELISA.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ANP meningkat sebentar, kemudian turun kembali dalam 30 menit. Peningkatan yang singkat ini tidak meluruhkan glycocalyx. Cairan paru meningkat sedikit, tidak mengakibatkan gangguan pernapasan. Penurunan hemoglobin terjadi, namun peningkatan curah jantung mengakibatkan pasokan oksigen malah meningkat. Pelebaran pembuluh darah yang terjadi, berbanding terbalik dengan peningkatan curah jantung, hingga menghasilkan tekanan darah yang stabil. Pelebaran pembuluh darah ini bersifat protektif, mengurangi peningkatan cairan paru.

Penelitian ini perlu diuji keabsahannya pada manusia. Namun demikian pelajaran yang dapat ditarik:

  1. Peningkatan cairan paru dalam jumlah besar tidak disebabkan karena pemberian cairan, tetapi karena proses inflamasi (misalnya pada demam berdarah dengue).
  2. Pada pasien dengan gangguan jantung, curah jantung tidak dapat meningkat lagi, hingga penurunan kadar hemoglobin mengakibatkan penurunan pasokan oksigen.
  3. Melebarkan pembuluh darah dapat menjadi opsi baru, dalam mencegah peningkatan cairan paru.
  4. Pemberian cairan infus saja tidak dapat diharapkan meningkatkan tekanan darah, karena peningkatan curah jantung akan diimbangi dengan pelebaran pembuluh darah.
  5. Untuk mengoptimalkan fungsi hemodinamik, dibutuhkan penilaian semua parameter.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.