Dampak Sevofluran Pada Otak Tikus | ethicaldigest

Dampak Sevofluran Pada Otak Tikus

Gaduh gelisah (Delirium Emergens) merupakan gangguan perilaku anak, yang sering dijumpai pada saat pemulihan dari pembiusan umum dengan teknik inhalasi. Angka kejadian gaduh gelisah pascaoperasi dilaporkan berkisar 10–67%, dengan populasi tertinggi pada anak usia 2–5 tahun dan mulai berkurang pada usia 62 bulan.

Meski gaduh gelisah pascaoperasi akan berhenti dengan sendirinya, ini bisa membahayakan keselamatan pasien. Pasien anak yang mengalami gaduh gelisah cenderung memiliki risiko jatuh, cedera, cemas, terlepasnya kateter atau penutup luka tanpa sengaja, dan perdarahan dari luka operasi yang lebih tinggi. Semua itu akan menyebabkan bertambahnya biaya perawatan dan ketidakpuasan rekan kerja, serta orangtua pasien.

Penyebab terjadinya gaduh gelisah pascaoperasi, sampai saat ini belum diketahui dengan jelas. Faktor risiko yang diduga berhubungan dengan terjadinya gaduh gelisah antara lain: faktor pasien, faktor operasi dan faktor pembiusan.

Sevofluran merupakan gas inhalasi pilihan yang banyak dipakai untuk pembiusan umum, terutama pada pasien anak, karena nyaman dan aman. Pemakaian sevofluran untuk pembiusan umum terbukti meningkatkan angka kejadian gaduh gelisah pascaoperasi, terutama pada anak. Mekanisme neurofisiologi terjadinya gaduh gelisah pascaoperasi dan kaitannya dengan gas sevofluran, masih belum jelas diketahui.

Dr. dr. Andi Ade Wijaya Ramlan, Sp. An-KAP, pada 8 Mei 2018 mempertahankan disertasi doktornya di FKUI yang berjudul, “Efek Sevofluran terhadap Delirium Emergens pada Anak Tikus Sprague-Dawley: Kajian tentang Kelistrikan Sel, Konsentrasi Kalsium Intrasel dan Peran Magnesium”, dihadapan para penguji.

Anak tikus Sprague Dawley berusia 2-5 minggu diberi pajanan sevofluran, dengan teknik insuflasi. Setelah pajanan dihentikan, diamati kejadian hipereksitasi. Kemudian tikus didekapitasi dan dibuat sediaan irisan jaringan otak tikus, untuk diperiksa menggunakan patch clamp, dengan metode cell-attached current clamp dan voltage clamp. Sebagian irisan jaringan otak tikus, juga diberi pewarna sensitif kalsium Fura-Red AM, yang memiliki sifat rasiometri sehingga memungkinkan untuk dilakukan pengukuran kadar kalsium intrasel secara kuantitatif. Sisa jaringan otak tikus diproses menjadi homogenate, untuk pemeriksaan reaksi inflamasi NFKB dan stress oksidatif Malondialdehide.

Angka kejadian perilaku eksitasi pasca pajanan sevofluran pada hewan coba sebesar 56,2%, dan tidak terdapat perilaku eksitasi pada kelompok yang mendapat magnesium sulfat. Hasil pemeriksaan reaksi inflamasi dan stress oksidatif menunjukkan nilai rerata normal. Hewan coba yang mengalami delirium emergensi, memiliki kadar kalsium sitosil yang lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak dianastesi, serta kelompok yang tidak mengalami delirium emergensi, dengan perbedaan yang bermakna secara statistik.

Hasil perekaman dengan menggunakan patch clamp metode cell attached current clamp dan voltage clamp, memperlihatkan angka yang lebih tinggi pada kelompok yang mengalami delirium emergensi, meski masih dalam rentang normal.

Terdapat peningkatan konsentrasi CA2+ sitosol sel neuron neokortikasl anak tikus Sprague Dawley, dengan potensial membran istirahat yang lebih tinggi pada saat pajanan dengan gas anastetika sevofluran dihentikan dan mengalami delirium emergensi. Pemberian magnesium sulfat terbukti mencegah terjadinya delirium emergensi pada hewan coba.

Hasil penelitiannya membuktikan, terjadi peningkatan konsentrasi kalsium di sitosol sel neuron neokortikal anak tikus Sprague-Dawley, sesaat setelah pajanan gas sevofluran dihentikan dan mengalami delirium emergens. Penelitian tersebut juga berhasil membuktikan bahwa pemberian magnesium, dapat mencegah terjadinya peningkatan kalsium intrasel sehingga tidak terjadi delirium emergens pada hewan coba setelah pajanan gas sevofluran dihentikan.

Dr. Andi Ade berharap, hasil penelitiannya dapat membantu merefleksikan mekanisme terjadinya delirium emergens pascaoperasi pada manusia, dan membuka jalan bagi penelitian lanjutan di laboratorium maupun klinis, sehingga dapat dilakukan tindakan preventif dan kuratif dengan tujuan meningkatkan keselamatan pasien pascapembiusan.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.