Probiotik vs Kanker Kolorektal | ethicaldigest

Probiotik vs Kanker Kolorektal

Kanker kolorektal atau kanker kolon dan rektum saat ini merupakan kanker pembunuh nomor tiga di dunia. Di Indonesia, kanker kolorektal menempati urutan ketiga kaker pada pria mau pun wanita. Pada pria yakni setelah kanker prostat dan paru-paru, sedangkan pada wanita setelah kanker serviks dan kanker payudara. Angkanya mencapai 1,8 per 100.000 penduduk.  Sementara data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, sekitar 700.000 pasien/tahun dan 2.000 pasien/hari yang meninggal akibat penyakit ini. Yang mengkhawatirkan, di dunia kanker ini sebagian besar (90%) diderita oleh kelompok usia >40 tahun; hanya 2-8% pada kelompok usia <40 tahun. Sementara di Indonesia, kelompok usia <40 tahun mencapai 28,17%.

Ada penyakit tertentu yang dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal, salah satunya yakni  IBD (inflammatory bowel disease). Secara umum, risiko kanker kolorektal pada penderita IBD meningkat 0,5-1% dalam 8-10 tahun setelah diagnosis. Sementara studi lain menunjukkan, orang dengan IBD memiliki kemungkinan lima kali lebih tinggi untuk menderita kanker kolorektal, dibandingkan populasi umum. Pasien dengan IBD ‘pasif’ memiliki risiko yang sama besar, dengan mereka yang memiliki IBD ‘aktif’. Penyakit yang secara umum terbagi atas kolitis ulseratif dan penyakit Crohn ini, sebenarnya lebih banyak ditemukan di Amerika dan Eropa. Namun, prevalensinya di Asia kini cenderung meningkat.

Di Indonesia, berdasarkan data di RS Dr. Kariadi, Semarang, dari total pemeriksaan kolonoskopi di Unit Endoskopi Penyakit Dalam selama tahun 2007-2009, ditemukan 26,1% pasien positif menderita kolitis ulseratif. Untuk penyakit Crohn, prevalensinya di Indonesia diperkirakan 1-10/100.000 penduduk.

Peran Probiotik

Probiotik secara langsung diketahui dapat mencegah tumor kolorektal. Penelitian oleh Hideki Ishikawa, dkk (2005) memeriksa efek L. casei Shirota strain terhadap 398 subjek (pria dan wanita, 380 di antaranya menyelesaikan studi) yang telah bebas dari tumor kolorektal dan sebelumnya telah menjalani pengangkatan tumor kolorektal sedikitnya dua kali. Diketahui, pasien dengan dua tumor kolorektal atau lebih, memiliki risiko lebih tinggi terhadap kanker kolon dibandingkan pasien yang hanya memiliki satu tumor kolorektal.

Mereka dibagi menjadi empat kelompok; 95 subjek mendapatkan terapi berupa gandum utuh, 96 subjek mendapat l. casei Shirota strain, 96 subjek mendapat keduanya, dan 93 subjek tidak mendapat perawatan apa pun. Mereka diobservasi dan menjalani kolonoskopi untuk mendiagnosa ada/tidaknya tumor baru, dalam 2 dan 4 tahun.

Setelah 4 tahun, jumlah tumor besar lebih tinggi secara signifikan pada kelompok gandum. Sebaliknya, tumor dengan derajat sedang-berat jauh lebih rendah pada kelompok yang diberi L. casei Shirota strain. Disimpulkan, L. casei Shirota strain mencegah tumor kolorektal atipia.

Studi klinis tentang pemberian L. casei untuk mencegah tumor kolorektal, belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Ada beberapa laporan dari studi klinis, yang mengarah ke perubahan flora usus. Misalnya studi oleh Roncucci, dkk, yang melaporkan bahwa laktulosa tampak menekan perkembangan tumor kolorektal. L. casei Shirota strain diketahui dapat meningkatkan imunitas tubuh dan menghambat enzim yang terlibat dalam karsinogenesis. Juga dilaporkan, L. casei Shirota strain menekan perkembangan tumor kolorektal pada tikus.

Hasil serupa dapat dilihat pada studi oleh Hayatsu (1993), yang menunjukkan bahwa konsumsi L. casei secara oral menekan peningkatan mutagen di urin relawan, setelah mengonsumsi daging sapi goreng. Tingginya konsumsi makanan ini memang merupakan salah satu faktor risiko kanker kolorektal.

Secara tidak langsung, probiotik mengurangi risiko kanker kolorektal dengan memberikan efek positif, dalam melawan kolitis ulseratif. In vitro, L. casei Shirota strain dan senyawa polysaccharide-peptidoglycan (PSPG)-nya menghambat produksi IL-6 pada lipopolysaccharide-stimulated PBMNC (peripheral blood mononuclear cells), yang diisolasi dari pasien kolitis ulseratif.

Keiichi Mitsuyama, dkk, menguji efek terapeutik L. casei Shirota strain pada pasien kolitis ulseratif. Sebanyak 10 subjek dengan colitis ringan-sedang aktif menerima L. casei Shirota strain (8x1010 CFU/hari) selama 8 hari, sebagai tambahan terapi konvensional. Sembilan pasien dengan terapi konvensional menjadi kontrol. Hasilnya, skor indeks aktivitas klinis secara signifikan lebih baik setelah perawatan dengan L. casei Shirota strain, dibandingkan sebelum terapi dan kelompok kontrol. Pengobatan pun aman dan mudah ditoleransi.

Jurnal Applied and Environmental Microbiology Juni 2005 mengeluarkan hasil studi lab, yang menunjukkan bahwa L. casei dapat menghambat bakteri E. coli menyerang dan melekat pada sel-sel usus. Menurut jurnal tersebut, lebih dari 36% penderita penyakit Crohn memiliki lesi di usus, yang berisi bakteri E. coli.

Belum sepenuhnya diketahui, bagaimana mekanisme probiotik dalam menghambat kanker kolorektal. Beberapa teori menduga, bakteri baik ini menstimulasi sistem imun untukmengenali dan menyerang sel-sel kanker; mengikat, menurunkan, atau menonaktifkan senyawa kimia penyebab kanker di saluran cerna; menyebabkan apoptosis pada sel-sel kanker. Sebuah studi menunjukkan, probiotik dapat menonaktifkan senyawa kimia tertentu di usus yang bisa merusak DNA dan menyebabkan kanker. Penelitian oleh V. De Preter, dkk (2004) menunjukkan, pemberian L. Casei Shirota strain menurunkan kadar zat pemicu karsinogenesis p-cresol.

Melibatkan Sistem Imun

Peranan L. casei Shirota strain dalam melawan kanker, berkaitan erat dengan kemampuannya memperbaiki sistem imun. Terutama dalam meningkatkan aktivitas sel NK (natural killer). Diketahui, sel NK berperan penting dalam melawan perkembangan tumor dan infeksi virus, dan flora usus dapat memodulasi aktivitas sel NK.

Penelitian oleh Fumiko Nagao, dkk (2000), memeriksa efek L. casei Shirota strai terhadap sel NK orang sehat. Studi ini melibatkan 9 relawan sehat (usia 20-40 tahun) dengan kadar aktivitas sel NK rendah, sebagai kelompok eksperimen. Mereka meminum susu fermentasi yang mengandung 4x1010L. casei Shirota strain hidup, setiap hari selama 3 minggu.

Sebagai kelompok kontrol, dilibatkan 8 orang relawan. Mereka diberi susu non fermentasi dengan komposisi yang mirip dengan Yakult (tanpa kandungan bakteri), sebagai plasebo. Sampel darah dikumpulkan lima kali: sebelum intake, 1 minggu dan 3 minggu setelah intake dimulai, serta 3 minggu dan 2 bulan setelah periode intake.

Hasilnya, pada kelompok L. casei Shirota strain, aktivitas sel NK meningkat 1 minggu setelah mulai intake, dan meningkat secara signifkan pada 3 minggu setelah mulai intake, dibandingkan dengan nilai sebelum intake. Aktivitas sel NK tetap tinggi selama 3 minggu berikutnya. Dua bulan setelah periode intake, aktivitas sel NK kembali ke kadar yang hampir serupa dengan sebelum intake. Peningkatan aktivitas sel NK, terutama mencolok pada mereka dengan sel NK sangat rendah. Pada mereka dengan sel NK sedang, peningkatannya biasa saja; tidak terjadi peningkatan berlebihan. Sementara pada kelompok kontrol, tidak ada perubahan signifikan antara sebelum, selama dan sesudah periode intake.

L. casei Shirota strain juga terbukti dapat meningkatkan aktivitas sel NK pada perokok. Kebiasaan merokok, seperti diketahui, menurunkan sel NK secara signifikan. Studi oleh Kanehisa Morimoto, dkk (2005) melibatkan 99 pria (usia 20-60) dengan kebiasaan merokok. Mereka secara acak dibagi ke dalam dua kelompok, dan setiap hari selama 3 minggu diberi susu fermentasi dengan L. casei Shirota strain atau plasebo.

Aktivitas sel NK pada PBMNC diperiksa sebelum dan sesudah intake. Kepada subjek ditanyakan mengenai rerata rokok yang dihisap per hari, serta jumlah rokok yang dihisap sebelum pengambilan sampel darah. Data ini digunakan untuk menilai pengaruh merokok terhadap aktivitas sel NK.

Diketahui, aktivitas sel NK pada individu berbanding terbalik dengan jumlah rokok yang dihisap. Makin tinggi konsumsi rokok, makin rendah aktivitas sel NK. Subjek yang mendapat L. casei Shirota strain, aktivitas sel NK-nya jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang mendapat plasebo.

Yakult mengandung lebih dari 6,5 milyar L. casei Shirota strain hidup. Ini adalah strain unggul yang tahan terhadap asam lambung dan cairan empedu, sehingga bisa mencapai usus dalam keadaan hidup. Penelitian memperlihatkan, konsumsi Yakult juga meningkatkan populasi dan kolonisasi bakteri probiotik lain seperti Bifidobacteria.

Peranan probiotik dalam dunia medis kini semakin diakui, berdasarkan berbagai penelitian yang menunjukkan efek positif probiotik terhadap berbagai masalah kesehatan. Probiotik tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan makin dipercaya sebagai terapi ajuvan mau pun preventif. Sebagai pelopor probiotik, Yakult terus melakukan riset mengenai probiotik di dua pusat penelitian, yakni Yakult Central Institute di Kunitachi, Jepang, dan Yakult Honsha European Research Center for Microbiology, ESV di Ghent, Belgia. (nid)

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.