Obat AIDS dari Spanyol | ethicaldigest

Obat AIDS dari Spanyol

Sekurangnya ada 4.000 pakar dan aktivis dari 65 negara menghadiri International Congress on AIDS in Asia and the Pacific (ICAAP) ke 9, di Nusa Dua, Bali, pada 9-13 Agustus 2009. Mereka bertemu untuk berbagi pengetahuan, berdialog, meningkatkan akuntabilitas dana dan mendorong aksi individual dan kolektif, dalam penanggulangan HIV/AIDS di Asia Pasifik.

Satu hal yang pasti, para pakar juga ingin tahu perkembangan terbaru pengobatan HIV/AIDS. Seberapa jauh keberhasilan pengobatan antiviral dan sampai di mana perkembangan pembuatan vaksin. Tetapi, ada satu hal yang terlupakan. Sebenarnya, obat HIV/AIDS sudah ada di dalam tubuh kita, yaitu sistim kekebalan kita sendiri. 

Menurut Luc Montagnier, salah satu penemu HIV, infeksi HIV bisa terjadi jika sistim kekebalan tidak dalam kondisi baik. Penyebabnya adalah stress oksidatif. Karena itu, menurutnya, untuk mengobati penyakit ini diperlukan antoksidan alami yang mampu meningkatkan sistim kekebalan tubuh. 

Jika sistim kekebalan dalam kondisi baik, meski seseorang terpapar HIV, ia tidak akan terinfeksi. Sebaliknya, orang dengan imunodepresi menjadi lebih sensitive terhadap infeksi dan mudah terinfeksi virus. Karena itu, kita membutuhkan antioksidan untuk menangkal radikal bebas perusak sistim kekebalan. 

VIUSID, produk dari Catalysis--perusahaan yang berkedudukan di Spanyol--merupakan antioksidan terkuat saat ini. “VIUSID mampu meningkatkan sistim kekebalan dan menurunkan dampak merusak dari virus dan radikal bebas, yang disebabkan oleh stress oksidatif,” ujar Eduardo Sanz Navares, Direktur Ilmiah Catalysis.

Yang menjadi kunci keunggulan produk ini adalah teknologi in house, yang dikenal sebagai metode aktifasi molekuler. Sebelum diaktivasi dengan metode aktivasi molekuler, kapasitas antioksidan yang dimiliki VIUSID adalah 1.100 poin. Ketika teraktivasi, meningkat menjadi 1,225, 1320 dan 3300. Pada tahun 2004, Catalysis berhasil mencapai kapasitas antioksidan sebesar 9.600 poin (7.836 kali lebih besar sebelum diaktivasi). 

Virus menggunakan sel CD4 sebagai pabrik, untuk membuat jutaan kopi virus. Hasil kopi ini dilepaskan dari CD4 dan menginfeksi sel CD4 lainnya. Terapi antiretroviral hanya bisa menghambat sebagian Intercellular-Uncoating dari membran virus. Karena itu, sel CD4 sehat tetap bisa terinfeksi kopi sel virus baru. Ini juga alasan, mengapa pengobatan dengan ARV, seperti pada penderita HIV, hepatitis C dan lain-lain harus dilanjutkan tanpa henti. 

VIUSID adalah suatu antiinflmasi, antiviral dan stimulator imun alamiah. VIUSID mengendalikan dan menurunkan viral load penderita HIV, yang pada saat bersamaan mempertahankan atau meningkatkan kadar CD4. VIUSID mencegah sel virus mengggunakan sel CD4 sebagai pabrik, dengan mencegah Intercellular – Uncoating dari virus dan lapisan eksternal atau membran sel CD4. Obat ini seperti penjaga keamanan yang melidungi sel CD4. 

Obat ini dapat digunakan sebagai monoterapi untuk HIV-AIDS. Jika digunakan sebagai terapi jangka pendek atau panjang, tidak terlihat adanya efek samping dan tidak menimbulkan resistensi terhadap terapi apa pun. Sepuluh penelitian klinis multisenter memberikan hasil positif, dengan angka harapan hidup >62%, setelah 72 bulan terapi. 

Salah satu penelitian VIUSID dilakukan di Kenya Meical Research Institute (KEMRI). Penelitian ini melibatkan 48 pasien yang diberi VIUSID, sebagai monoterapi. Setelah 36 bulan, angka harapan hidup mencapai 82,35% dan viral load menurun 63%, menurun dari 100.509 menjadi 37.384 kopi/ml. Selama 36 bulan pengobatan dengan VIUSID, nilai CD4 rata-rata pada semua pasien tetap stabil >350CD4/ml. Dan, yang terpenting, tidak ditemukan adanya efek samping. 

VIUSID sendiri, sebenarnya, tidak hanya bermanfaat untuk HIV/AIDS. Berbagai bukti menyebutkan, VIUSID juga bisa untuk penyakit infeksi lain, seperti hepatitis C, B, demam berdarah, SARS dan flu burung. Jika sistim kekebalan tubuh dalam keadaan prima, penyakit infeksi tidak berkutik. 

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.