Ethicaldigest

Diagnostik Emboli Arteri Koroner

Penelitian pertama yang menyelidiki angka kejadian, gambaran klinis, dan prognosis pasien dengan infark miokard (IM) akut karena emboli arteri koroner menemukan, 2,9% pasien mengalami IM karena emboli arteri koroner. Pada publikasi terbaru, Dr. Tatsuhiro Shibata (National Cerebral and Cardiovascular Center, Suita, Jepang) dan rekan mengajukan seperangkat kriteria diagnostic, untuk emboli arteri koroner. Sebagian besar didasarkan pada hasil pemeriksaan pencitraan. Temuan mereka diterbitkan 25 Juni 2015 di Jurnal Circulation.

Emboli arteri koroner paling sering disebabkan fibrilasi atrium (AF). Pasien memiliki angka kematian 30-hari, serupa dengan pasien IM lain, namun mereka memiliki risiko kematian 5 tahun lebih tinggi, “Pasien ini mewakili sub kelompok IM berisiko tinggi. Dibutuhkan follow up lebih dekat,” saran Shibata dan rekan.

Sulit mengidentifikasi pasien-pasien ini, dan mendeteksi thrombus (misalnya di sumbatan atrium kiri) dengan ekokardiografi transesofageal jarang dilakukan pada fase akut. Shibata dan rekan bertujuan mengevaluasi prevalensi, karakteristik klinis dan outcome pada pasien dengan embolisme arteri koroner, berdasar 2135 pasien dengan IM akut, yang ditemui tahun 2001 – 2013.

Setelah pasien dengan IM dan PCI dan/atau CABG dikeluarkan dari penelitian, ada 1776 pasien dengan IM tersisa. Dari pasien ini, 52 mengalami embolisme arteri koroner (32 pasti, 20 kasus probable) berdasar kriteria yang diajukan. Pasien dengan embolisme arteri koroner usia rata-rata 66 tahun, 60% nya pria. Secara serupa, pasien dengan IM aterosklerotik usia rata-rata 68 tahun, 71% nya pria.

Dibanding pasien lain, mereka dengan embolisme ateri koroner lebih kecil kemungkinannya menderita diabetes mellitus tipe 2 (8% vs 40%), hipertensi (48% vs 67%), atau dislipidemia (31% vs 54%). Lebih setengah pasien dengan embolisme arteri koroner (60%) memiliki skor CHADS2 rendah, 0 atau 1.

Pasien dengan embolisme arteri koroner juga lebih besar kemungkinannya mengalami fibrilasi atrium (73% vs 7%). Seperempat pasien dengan embolisme arteri koroner mengalami kardiomiopati, dan 15% mengalami penyakit katup jantung.

Angka kematian akibat berbagai sebab dalam 30 hari, sama pada kedua kelompok: 3 pasien dengan embolisme arteri koroner vs 55 pasien dengan IM aterosklerosis (6% vs 3%, P=0.240). Tiga kematian pada kelompok embolisme arteri koroner akibat kanker paru dan usus; 52 dari 55 kematian pada pasien lain akibat penyakit kardiovaskuler.

Selama follow up 49 bulan, 5 dari 52 pasien dengan embolisme arteri koroner (10,4%) mengalami episode trombolitik berulang. “Embolisme arteri rekuren terjadi secara eksklusif pada pasien fibrilasi atrium dengan INR tidak adekwat, yang menekankan perlunya terapi antagonist vitamin K yang adekwat untuk mencegah embolisme koroner,” tulis Shibata dan rekan.

Angka kematian akibat berbagai sebab dan kematian karena jantung dalam 5 tahun pada pasien dengan embolisme arteri koroner, secara signifikan lebih tinggi dibanding pasien lain (28% vs 7,6%, P<0,001; dan 17,5% vs 3,4%, P<0,001, secara berurutan).

Dalam satu kelompok kohort terdiri dari 45 pasien dengan embolisme arteri koroner, yang memiliki kesesuaian dengan pasien IM lain dalam hal usia, jenis kelamin, diabetes, hipertensi, dislipidemia, merokok dan LVEF, risiko kematian akibat berbagai sebab selama 5 tahun (HR 7,66, 95% CI 1,65–35,45; P<0,001) dan mortalitas jantung (HR 9,29; 95% CI 1,13–76,5; P<0,001), tetap lebih tinggi pada pasien dengan embolisme arteri koroner.