Ethicaldigest

Patofisiologi Preeklampsia dan Cara Diagnosa

Patofisiologi preeklampsia dibagi dua tahap, yaitu perubahan perfusi plasenta dan sindrom maternal. Tahap pertama terjadi selama 20 minggu pertama kehamilan. Pada fase ini terjadi perkembangan abnormal remodelling dinding arterispiralis. Abnormalitas dimulai pada saatperkembangan plasenta, diikuti produksi substansi yang jika mencapai sirkulasi maternal menyebabkan terjadinya sindrommaternal. Tahap ini merupakan tahap kedua, disebut juga fase sistemik. Fase ini merupakan fase klinis preeklampsia, dengan elemen pokok respons inflamasi sistemik maternal dan disfungsi endotel.

Selain itu, dalam patofisiologi preeklampsia didapatkan perubahan irama sirkadian normal, yaitu tekanan darah seringkali lebih tinggi pada malam hari karenapeningkatan aktivitas vasokonstriktorsimpatis, dan akan kembali normal setelah persalinan. Tirah baring sering dapat memperbaiki hipertensi pada kehamilan, mungkin karena perbaikan perfusi uteroplasenta.

“Obesitas merupakan salah satu faktor risikopenting terjadinya preeklampsia. Dislipidemiadan diabetes melitus gestasionalmeningkatkan risiko preeklampsia duakali lipat, mungkin berhubungan dengandisfungsi endotel,” jelasnya.

Pada preeklampsia, fraksi filtrasi renal menurunsekitar 25%. Padahal selama kehamilan normal, fungsi renal biasanya meningkat35-50%. Klirens asam urat serum menurun,biasanya sebelum manifestasi klinis. Kadarasam urat >5,5 mg/dL akibat penurunan klirens renal dan filtrasi glomerulus, merupakan penanda penting preeklampsia.

Edema Paru pada Preeklampsia

Preeklampsia masih merupakan penyebab terpenting edema paru akutdengan hipertensi, pada kehamilan. Edemaparu akut merupakan penyebab pentingmorbiditas dan mortalitas pada kehamilan,ditandai dengan sesak nafas mendadak. Dapat disertai agitasi, dan merupakanmanifestasi klinis proses penyakit yang berat.

Terapi meliputi oksigenasi, ventilasi, dankontrol sirkulasi dengan venodilator.Dibandingkan dengan wanita pada kehamilanfisiologis, wanita preeklampsiamemperlihatkan berbagai abnormalitasjantung. Mulai dari peningkatan curahjantung dan peningkatan ringan resistensivaskuler sistemik, hingga penurunan curahjantung dengan peningkatan resistensi vaskulersistemik. Sering kali didapatkan gangguanfungsi diastolik dengan peningkatanmassa ventrikel kiri. Pada preeklampsia jugaterjadi penurunan tekanan osmotik koloidplasma, dan gangguan permeabilitas endotel.

Krisis hipertensi yang mencetuskan edemaparu akut, mungkin karena aktivasi sistemsaraf simpatis yang menyebabkan terjadinyavasokonstriksi, sehingga meningkatkanafterload dan redistribusi cairan darisirkulasi perifer ke sirkulasi pulmonal. Halini menyebabkan akumulasi cairan padaalveolus dan penurunan oksigenasi.

Diagnosis

Menurut American College of Obstetrics andGynecology, diagnosis dibuat jika tekanandarah >140/90 mmHg pada dua kalipengukuran, disertai proteinuria >300 mg/hari. Dulu, secara klasik dapat ditemukan adanya 3 hal utama yaitu: hipertensi, edema dan proteinuria. Sekarang ini, edema yang merupakan gambaranklasik preeklampsia, tidak lagi digunakansebagai dasar diagnosis karena sensitivitasmau pun spesifisitasnya rendah.

Data menunjukkan, angka kejadian preeklamsia sangat dipengaruhi kondisi tekanan darah yang dialami penderita, meski beberapa faktor lain juga ikut terlibat pada kejadian preeklamsia. Kondisi preeklamsia selanjutnya akan mempersulit 5-6% kehamilan, dan angka ini akan meningkat menjadi 25% pada wanita yang sebelumnya memiliki hipertensi.

Diperkirakan, 50.000 wanita di dunia setiap tahunnya meninggal karena preeklamsia, dengan morbiditas yang meliputi placental abruption, intra-abdominal haemorrhage, gagal jantung dan kegagalan muti organ lain. Risiko pada janin dari kondisi preeklamsia, meliputi kemungkinan bayi gagal tumbuh akibat adanya insufisiensi plasenta dan kelahiran prematur. Bahkan tercatat sebanyak 25% dari kejadian prematuritas dengan berat bayi lahir rendah <1500 gram, disebabkan preeklamsia. Meski demikian, pada 20% kasus tidak ditemukan proteinuria atauhipertensi. Pemeriksaan laboratorium,seperti tes fungsi hepar, pemeriksaan proteinurin dan kreatinin serum, dapat membantu mengetahui derajat kerusakan target organ. Tetapi, tidak ada yang spesifik untuk diagnosispreeklampsia.

Risiko Preeklamsia pada Ibu dan Janin 2