Ethicaldigest

Kaitan HPV dan SCCHN

Selama ini, tumor di daerah kepala dan leher diketahui berkaitan erat dengan konsumsi rokok dan alkohol. Termasuk pada kasus-kasus Squamous cell carcinoma of head and neck (SCCHN). Bahkan, pada penelitian diketahui bahwa pasien dengan kanker orofaring yang masih merokok saat didiagnosis dan selama terapi, akan mengalami risiko berkembangnya kanker lebih lanjut dan kematian yang lebih tinggi, dibanding mereka yang tidak lagi merokok.

Namun, banyak pasien dengan SCCHN tidak memiliki riwayat merokok atau pun minum alkohol. Pada studi epidemiologi dan molekuler, diketahui adanya kaitan SCCHN dengan human papilloma virus (HPV), terutama HPV-16. Pada pertemuan ilmiah American Society of Clinical Oncology (ASCO) tahun 2007, isu ini mendapat perhatian besar. Terbukti dengan bermunculannya studi mengenai HPV dan SCCHN, baik dari segi epidemiologi, kaitannya dengan prognosis, dan terapi.

Patofisiologi

HPV merupakan virus yang dikenal berkaitan erat dengan terjadinya kanker serviks, pada wanita. Saat ini, HPV tipe 16 juga berkaitan dengan infeksi di daerah kepala dan leher, terutama di daerah orofaring, khususnya di tonsil dan dasar lidah. Menurut dr. Ronald A. Hukom MHSc, SpPD-KHOM, mekanisme karsinogenesis HPV pertama kali diketahui pada kanker serviks, di mana lebih dari 90% kasusnya berkaitan dengan infeksi HPV, terutama tipe 16 dan 18.

Ada dua gen yang berperan dalam keganasan ini, yaitu onkogen HPV E6 dan E7. Kedua onkogen ini masing-masing mengkodekan protein yang tersusun dari 151 dan 98 asam amino. Protein ini bertanggung jawab terhadap onset dan persistensi proses keganasan, baik kanker di ano-genital mau pun di kepala dan leher. E6 dan E7 memiliki kemampuan untuk berikatan dan menginaktivasi tumor suppressor p53 dan pRb. Kemampuan ini berkaitan dengan potensi onkogeniknya.

Protein E6 mengandung ikatan zinc, dan dapat membentuk suatu kompleks dengan protein tumor supressor p53 pada sel host, yang mencetuskan degradasi p53. Sedangkan protein E7 membentuk kompleks dengan protein gen retinoblastoma, yang merupakan regulator negatif terhadap pertumbuhan sel. Hal ini menyebabkan pelepasan faktor transkripsi E2F dalam sel. E2F bebas mengaktifkan ekspresi beberapa gen host, yang terlibat dalam perkembangan siklus sel. Sedangkan p53 yang diinaktivasikan oleh E6/E7 dan protein yang berhubungan dengan pRb, memungkinkan sel untuk lolos, diikuti dengan menghilangnya replikasi DNA. Efek hilangnya fungsi p53 dan pRb secara terus menerus, akan menyebabkan perubahan sel epitel menjadi keganasan.

Tidak adanya perubahan genetik atau epigenetik pada jalur p53 dan pRb pada SCCHN dengan HPV positif, bertentangan dengan yang ditemukan pada SCCHN yang HPV negatif. Mutasi p53 secara khas, sering ditemukan pada karsinoma sel skuamosa dengan HPV negatif. Sebaliknya, karsinoma HPV positif biasanya tidak mengandung mutasi p53, dan terjadi terutama pada pasien yang tidak memiliki riwayat penggunaan tembakau dan/atau alkohol secara berlebihan. Perbedaan ini menunjukkan, keganasan kepala dan leher yang HPV positif dan negatif merupakan dua hal  berbeda. Selain itu, diketahui bahwa prognosis pasien dengan HPV positif, lebih baik dibanding pasien dengan tumor HPV negatif yang berkaitan dengan merokok.

Hubungan antara infeksi HPV dan gen tumor supressor lainnya, seperti p16, juga merupakan hal yang menarik. Fungsi protein p16 sebagai tumor supressor dengan berikatan dengan kompleks cyclin D1 CDK4/CDK6, mencegah fosforilasi protein Rb. Overekspresi protein p16 telah dilaporkan beberapa kali, pada kanker yang berkaitan dengan HPV. Pada studi juga nyebutkan bahwa hanya tumor yang HPV positif/dengan ekspresi p16, merupakan jenis yang berkaitan dengan prognosis yang lebih baik.                

Penularan HPV genital berkaitan dengan kontak seksual. Prevalensinya meningkat pada individu, dengan pasangan seks lebih dari satu. Jenis penularan HPV pada cavum oris masih belumĀ  diketahui, namun perilaku dan praktek seksual memungkinkan terjadinya penularan ini.

Epidemiologi SCCHN-HPV positif