Ethicaldigest

Sakit Kepala Kluster 3

Gelisah

Orang-orang dengan sakit kepala kluster tampak gelisah, cenderung melangkah bolak-balik atau duduk sambil menggoyang-goyangkan badan ke depan dan ke belakang, untuk mengurangi rasa sakit. Mereka dapat menekan tangannya pada mata atau kepala, atau meletakkan es atau  kompres hangat pada daerah yang sakit. Berbeda dengan penderita migraine, pasien dengan sakit kepala kluster biasanya enggan berbaring saat terjadi serangan. Karena, posisi ini dapat menambah rasa sakit.

Banyak orang dengan sakit kepala kluster memilih untuk sendirian. Mereka mungkin tetap berada di luar rumah, bahkan pada cuaca yang sangat dingin, selama masa serangan. Mereka mungkin berteriak, membenturkan kepala ke dinding atau melukai diri sendiri, untuk mengalihkan perhatian dari sakit yang tidak tertahankan. Beberapa orang menyatakan bahwa rasa sakit berkurang dengan berolahraga, seperti lari di tempat atau melakukan shit-up atau push-up.

Mata Berair, Hidung Tersumbat

Sakit kepala kluster selalu dipicu oleh respon sistem saraf otonom. Sistem ini mengontrol banyak aktivitas vital tanpa disadari. Contohnya, sistem saraf otonom mengatur tekanan darah, denyut jantung, keringat dan suhu tubuh. Respon tersering sistem otonom pada sakit kepala kluster, adalah keluarnya air mata berlebihan dan mata merah pada sisi yang sakit.

Tanda dan gejala yang mungkin bersamaan dengan sakit kepala kluster, antara lain:

  1. Lubang hidung tersumbat atau berair pada sisi kepala yang terserang.
  2. Kemerahan pada muka.
  3. Bengkak di sekitar mata pada sisi wajah yang terkena.
  4. Ukuran pupil mengecil.
  5. Kelopak mata sulit dibuka.

Tanda dan gejala tersebut hanya terjadi selama masa serangan. Meski demikian, pada beberapa orang, kelopak mata yang sulit ditutup dan mengecilnya ukuran pupil tetap ada, setelah periode serangan. Beberapa gejala menyerupai migraine termasuk mual, fotofobia dan fonofobia, serta aura dapat terjadi pada cluster headache.

Karakteristik Periode kluster

Suatu periode kluster umumnya berlangsung antara 2 -12 minggu. Periode kluster kronik dapat berlanjut lebih dari satu tahun. Tanggal permulaan dan jangka waktu dari tiap-tiap periode kluster, seringkali konsisten dari waktu ke waktu. Pada sebagian besar orang, periode kluster dapat terjadi musiman, seperti tiap kali musim semi atau tiap kali musim gugur. Seiring dengan waktu, periode cluster dapat menjadi lebih sering, lebih sulit untuk diramalkan, dan lebih lama.

Selama periode kluster, sakit kepala biasanya terjadi tiap hari, terkadang beberapa kali sehari. Suatu serangan tunggal rata-rata berlangsung 45 – 90 menit. Serangan terjadi pada waktu yang sama, dalam 24 jam. Serangan pada malam hari lebih sering daripada siang hari, sering berlangsung 90 menit sampai 3 jam setelah tertidur. Waktu tersering terjadinya serangan adalah antara jam 1 – 2 pagi, antara jam 1 – 3 siang dan sekitar jam 9 malam.

Sakit kepala kluster dapat menakutkan penderita serta orang-orang di sekitarnya. Serangan yang sangat membuat lemah, sepertinya tak tertahankan. Namun rasa nyeri seringkali hilang mendadak, sebagaimana kemunculannya, dengan intensitas yang menurun secara cepat. Setelah serangan, kebanyakan orang bebas sepenuhnya dari rasa sakit, namun mengalami kelelahan. Kesembuhan sementara selama periode kluster dapat berlangsung beberapa jam sampai sehari penuh, sebelum serangan selanjutnya.

Diagnosis

Sakit kepala kluster mempunyai ciri khas tipe nyeri dan pola serangan. Suatu diagnosis tergantung pada gambaran dari serangan, yang mencakup nyeri, lokasi dan keparahan sakit kepala, dan gejala-gejala lain yang terkait. Frekuensi dan lama waktu terjadinya sakit kepala, juga merupakan faktor yang penting.

Keterlibatan fenomena otonom yang jelas, penting dalam diagnosis sakit kepala kluster. Tanda-tanda tersebut di antaranya adalah rinorea dan hidung tersumbat ipsilateral, lakrimasi, hiperemi pada konjungtiva, diaforesis pada wajah, edema pada palpebra dan sindrom Horner parsial atau komplit. Di samping itu, takikardia sering ditemukan.

Pemeriksaan neurologis dapat membantu mendeteksi tanda-tanda dari sakit kepala kluster. Terkadang pupil terlihat lebih kecil atau palpebra terjatuh, bahkan di antara serangan.

Sakit kepala kluster adalah suatu diagnosis klinis. Pada kasus-kasus yang jarang, lesi struktural dapat menyerupai gejala-gejala sakit kepala kluster. Ini menegaskan perlunya pemeriksaan neuroimaging. Uji yang dilakukan adalah CT- Scan dan MRI.

Sakit Kepala Kluster 2