Ethicaldigest

Sakit Kepala Kluster, Pengertian, Patofisiologis, Penyebab dan Pemicu

Pada sebagian besar kasus, sakit kepala bukan disebabkan suatu kondisi penyakit. Pada kenyataannya, sebagian besar sakit kepala hanya sakit kepala saja, dan tidak disebabkan oleh suatu kondisi medik spesifik lainnya. Sakit kepala ini disebut sakit kepala primer. Yang termasuk sakit kepala jenis ini antara lain adalah migrain, sakit kepala tipe tensi dan sakit kepala kluster.

Sakit kepala kluster merupakan istilah yang menggambarkan lebih pada sifat sakit kepala, daripada tingkat keparahan nyeri. “Sakit kepala kluster adalah nyeri kepala sesisi, berat dan muncul di area orbital (mata), supraorbital (diatas mata) dan temporal (sisi samping kepala, diatas telinga),” kata dr. Endang Mutiawati, SpS, dari Universitas Syah Kuala, Banda Aceh.

Serangan sakit kepala kluster terjadi dengan suatu pola siklus yang berkelompok. Rasa sakit dapat berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan, diikuti periode remisi ketika serangan sakit kepala berhenti seluruhnya. Biasanya, menurut dr. Endang, sakit kepala kluster bisa terjadi selama 15-180 menit, dengan frekwensi 1-8x/hari.

Meski pun polanya bervariasi antara satu orang dengan yang lain, sebagian besar orang mengalami satu atau dua periode kluster dalam satu tahun. Selama remisi, tidak ada sakit kepala yang terjadi selama beberapa bulan, sampai terkadang sampai beberapa tahun.

Sakit kepala kluster merupakan salah satu tipe sakit kepala yang sangat menyakitkan, namun tidak mengancam jiwa. “Nyeri kepala kluster dirasa tajam, seperti disayat pisau, rasa terbakar dan dibor,” kata dr. Endang.

Serangan dimulai mendadak, rasa nyeri biasanya di belakang atau di sekitar salah satu mata dan sangat berat. Mata dan hidung pada sisi yang sama rasa nyeri dirasakan bisa menjadi kemerahan, bengkak dan berair. Sakit kepala kluster juga menyebabkan kegelisahan, dan menimbulkan rasa takut pada penderita dan keluarganya.

Jumlah penderita nyeri kepala kluster lebih sedikit dari nyeri kepala tipe primer lainnya (nyeri kepala tipe tegang, migren, dan sebagainya). Data pasti berapa jumlah nyeri kepala kluster di Indonesia belum ada. Tapi, data epidemiologi negara lain menunjukkan, jumlah penderita nyeri kepala kluster sedikit. “Jumlah nyeri kepala total dari seluruh penyakit adalah 46%, dan terbanyak nyeri kepala tipe tegang 42%, migren 11%, nyeri kepala kronik 3%, sedangkan nyeri kepala kluster 1%,” kata dr. Endang.

Patofisiologi

Patofisiologi dari sakit kepala jenis ini belum sepenuhnya diketahui. Periodisitasnya dihubungkan dengan pengaruh hormon pada hipotalamus (terutama nukleus suprachiasmatik). Baru-baru ini, neuroimaging fungsional dengan positron emision tomografi (PET) dan pencitraan anatomis dengan morfometri voxel-base, telah mengidentifikasikan bagian posterior dari substansia grisea dari hipotalamus, sebagai area kunci dasar kerusakan pada sakit kepala kluster.

Nyeri pada sakit kepala kluster diduga dihasilkan pada tingkat kompleks perikarotid /sinus kavernosus. Daerah ini menerima impuls simpatis dan parasimpatis dari batang otak, mungkin memperantarai terjadinya fenomena otonom pada saat serangan. Peranan pasti dari faktor-faktor imunologis dan vasoregulator, sebagaimana pengaruh hipoksemia dan hipokapnia pada sakit kepala kluster, masih kontroversial.

Penyebab

Penyebab sakit kepala kluster masih belum diketahui, tapi tampaknya tidak terkait dengan penyakit lain pada otak.

Berdasarkan jangka waktu periode kluster dan periode remisi, International Headache Society mengklasifikasikan sakit kepala kluster menjadi dua tipe :

  1. Episodik, dalam bentuk ini sakit kepala kluster terjadi setiap hari selama satu minggu sampai satu tahun, diikuti remisi tanpa nyeri yang berlangsung beberapa minggu sampai beberapa tahun sebelum berkembangnya periode kluster selanjutnya.
  2. Kronik, sakit kepala terjadi setiap hari selama lebih dari satu tahun, dengan tidak ada remisi atau dengan periode tanpa nyeri berlangsung kurang dari dua minggu.

Sekitar 10-20% orang dengan sakit kepala kluster, mempunyai tipe kronik. Sakit kepala kluster kronik dapat berkembang setelah suatu periode serangan episodik, atau dapat berkembang secara spontan tanpa didahului oleh riwayat sakit kepala sebelumnya. Ada beberapa orang yang mengalami fase episodik dan kronik silih berganti.

Pemicu sakit kepala kluster

Tidak seperti migrain dan sakit kepala tipe tegang, sakit kepala kluster
umumnya bukan karena faktor pemicu seperti makanan, perubahan hormonal atau stress. Tapi, beberapa penderita sakit kepala kluster merupakan peminum dan perokok berat. Setelah periode kluster dimulai, konsumsi alkohol dapat memicu sakit kepala yang sangat parah dalam beberapa menit. Karenanya, banyak penderita sakit kepala kluster dianjurkan untuk menjauhkan diri dari alkohol selama periode kluster. Pemicu lainnya adalah penggunaan obat-obatan, seperti nitrogliserin yang digunakan pada pasien dengan penyakit jantung. 

Periode kluster seringkali terjadi saat pola tidur mengalami gangguan,
seperti pada saat liburan atau ketika memulai pekerjaan baru atau jam kerja yang baru. Beberapa orang dengan sakit kepala kluster, juga mengalami apnea pada saat tidur, suatu kondisi di mana terjadinya kolaps sementara pada dinding tenggorokan sehingga menyumbat jalan nafas berulang kali pada saat tidur.

 

Sakit Kepala Kluster, Karakteristik dan Cara Diagnosis